Kolapsnya Sistem Pertahanan Udara Venezuela saat Diserang AS, Buk-M2 dan Pantsir Rusia Tidak Efektif
Sistem pertahanan udara Venezuela, termasuk Buk-M2 dan Pantsir buatan Rusia, terbukti tidak efektif saat serangan besar-besaran Amerika Serikat
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Endra Kurniawan
Ringkasan Berita:
- Sistem pertahanan udara Venezuela, termasuk Buk-M2 dan Pantsir buatan Rusia, terbukti tidak efektif saat serangan besar-besaran Amerika Serikat pada 3 Januari 2026.
- Operasi militer yang melibatkan lebih dari 150 pesawat dan pasukan elit Delta Force berhasil melumpuhkan infrastruktur militer Caracas serta menangkap Presiden Nicolás Maduro dan istrinya.
- Setelah ditangkap, keduanya dibawa ke USS Iwo Jima sebelum diterbangkan ke AS
TRIBUNNEWS.COM – Amerika Serikat (AS) melancarkan operasi militer skala besar terhadap Venezuela pada Sabtu (3/1/2026) dini hari waktu setempat.
Serangan awal dilaporkan menargetkan ibu kota Caracas sekitar pukul 02.00 waktu setempat.
Video yang beredar di media sosial menunjukkan helikopter Amerika melintas di langit kota, tanpa terlihat adanya aktivitas sistem pertahanan udara.
Rekaman awal dan citra satelit mengindikasikan bahwa pasukan AS memulai operasi tersebut setelah berbulan-bulan persiapan.
Mengutip united24media.com, serangan AS dilaporkan berfokus pada infrastruktur militer di Caracas, termasuk Benteng Tiuna, kompleks utama yang menjadi pusat komando militer Venezuela.
Rekaman yang ditinjau Defense Express, media dan perusahaan analisis pertahanan asal Ukraina yang berfokus pada industri militer, teknologi, dan keamanan internasional, menunjukkan helikopter CH-47 Chinook beroperasi di atas ibu kota.
Meski sebelumnya dilaporkan bahwa Rusia memasok sistem pertahanan udara tambahan ke Venezuela pada 2024, termasuk unit Buk-M2 dan Pantsir yang diangkut menggunakan pesawat Il-76, sistem-sistem tersebut tampaknya tidak efektif atau telah dinetralisir.
Mengutip situs resmi militer Amerika Serikat, ODIN (Operational Environment Data Integration Network), Buk-M2 (nama NATO SA-17 Grizzly, nama Rusia 9K317) adalah sistem rudal permukaan-ke-udara (SAM) jarak menengah bergerak buatan Rusia yang dirancang untuk melindungi pasukan lapangan dan instalasi logistik dari ancaman udara.
SA-17 Grizzly adalah versi yang ditingkatkan dari sistem pertahanan udara bergerak Buk-M1.
Sistem ini dinilai mampu mengalahkan pesawat strategis dan taktis, rudal balistik taktis, rudal jelajah, rudal yang diluncurkan dari udara, bom udara berpemandu, dan helikopter, termasuk helikopter yang melayang.
Sementara itu, masih mengutip ODIN, Pantsir-S1 (SA-22 Greyhound) adalah sistem senjata dan rudal anti-pesawat swagerak (SPAAGM) yang dirancang oleh Rusia.
Baca juga: Pakar: Jika AS Tidak Dihukum atas Invasi ke Venezuela, China Akan Mencontoh dengan Menyerang Taiwan
Sistem pertahanan udara Pantsir menggabungkan senjata dan rudal anti-pesawat untuk mencegat pesawat taktis, amunisi berpemandu presisi (PGM), dan kendaraan udara tak berawak (UAV).
Meskipun setiap kendaraan peluncur Pantsir mampu berfungsi secara independen, mereka biasanya beroperasi dalam baterai yang terdiri dari enam kendaraan peluncur dan kadang-kadang disertai dengan kendaraan komando dan kendali terpisah.
Angkatan Udara Venezuela juga sangat bergantung pada 21 pesawat tempur Su-30MKV, varian lokal dari Su-30MK2 buatan Rusia.
Meski dengan kecanggihan sistem pertahanan udara tersebut, Defense Express menyebut tidak ada respons pertahanan udara yang terdeteksi dalam video-video yang direkam selama serangan berlangsung.