Aroma Pengkhianatan di Lingkaran Dekat Maduro, Jenderal Venezuela Pilih Menyelamatkan Diri?
Media internasional menyebutkan, keberhasilan operasi Amerika memanfaatkan retaknya soliditas di tubuh angkatan bersenjata Venezuela.
Penulis:
Malvyandie Haryadi
Ringkasan Berita:
- Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat pada 3 Januari 2026 mengejutkan dunia.
- Laporan media menyebut keberhasilan operasi diduga dipicu oleh pengkhianatan dari lingkaran dalam Maduro, termasuk unsur militer.
- Nama Diosdado Cabello dan Vladimir Padrino López disebut sebagai tokoh berpengaruh yang mengecam aksi AS, namun dianggap memberi respons hambar. Analisis menilai loyalitas militer Venezuela terhadap Maduro telah melemah akibat sanksi internasional.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dunia dikejutkan dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat, Sabtu (3/1/2026).
Tak hanya soal "keberanian" AS masuk menyerang negara lain, melainkan juga faktor kecepatan mengeksekusi target mereka.
Netizen di media sosial kemudian membandingkan keberhasilan Amerika Serikat dengan upaya Rusia menaklukan Ukraina yang hingga saat ini tak kunjung berhasil.
Dalam video-video yang beredar di media sosial terlihat, helikopter Apache hingga Blackhawk militer AS begitu bebas terbang rendah di Ibu Kota Caracas.
Tak ada sengatan Manpads (rudal antiserangan udara jarak pendek) yang mengancam heli-heli itu, sebagaimana yang dialami pilot heli Rusia di Ukraina. Semua berjalan mulus.
Hingga banyak yang bertanya--tanpa menafikan peralatan canggih militer AS--Apakah ada pengkhianatan di lingkaran dalam Presiden Maduro?
Pengkhianatan
Situs berita Colombiaone mengutip New York Times melaporkan, sejumlah sumber mereka menyebutkan, operasi tersebut memanfaatkan retaknya soliditas di tubuh angkatan bersenjata Venezuela.
Kejatuhan Maduro diduga kuat dipicu oleh pengkhianatan dari lingkaran dalam, termasuk unsur militernya sendiri.
Lingkaran dalam itu termasuk Diosdado Cabello, Menteri Dalam Negeri, Kehakiman, dan Perdamaian, yang diyakini memiliki kekuatan setara dengan Maduro.
Anggota lain adalah Vladimir Padrino López, kepala Angkatan Bersenjata Venezuela yang sudah lama menjabat dan punya pengaruh besar.
Keduanya cepat mengecam aksi AS, tapi respons mereka dianggap hambar.
"Meski Amerika Serikat menjalankan aspek taktis pengambilalihan, berbagai laporan kredibel menunjukkan bahwa cengkeraman Maduro atas militer Venezuela—yang selama ini dikenal solid—telah melemah dalam beberapa bulan terakhir. Para analis menilai, runtuhnya loyalitas di kalangan faksi-faksi kunci militer yang selama ini menjadi tulang punggung rezim memainkan peran krusial dalam keberhasilan operasi tersebut," demikian tulis kantor berita itu dalam laporannya.
Secara historis, Maduro mempertahankan kekuasaan melalui jaringan patronase yang mengikat para petinggi militer dengan jabatan strategis dan akses ke industri minyak Venezuela yang bernilai besar.
Namun tekanan sanksi internasional, krisis ekonomi berkepanjangan, serta oposisi domestik yang kian menguat secara perlahan menggerus kesetiaan tersebut.
Baca tanpa iklan