Venezuela, Minyak, dan Bayang-bayang Intervensi AS di Amerika Latin
Menurut Furqan, tindakan AS terhadap Venezuela mencerminkan pola lama intervensi Washington di kawasan Amerika Latin
Venezuela, Minyak, dan Bayang-bayang Intervensi AS di Amerika Latin
TRIBUNNEWS.COM - Sekretaris Jenderal Free Palestine Network (FPN), Furqan AMC, mengecam keras agresi militer Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela, yang dinilainya tidak hanya melanggar kedaulatan negara, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas geopolitik Amerika Latin secara luas.
Menurut Furqan, tindakan AS terhadap Venezuela mencerminkan pola lama intervensi Washington di kawasan tersebut, yang sejak era Perang Dingin kerap menjadikan Amerika Latin sebagai arena perebutan pengaruh politik, ideologi, dan sumber daya strategis.
Baca juga: Kombinasi Drone Canggih Plus Orang Dalam CIA, Cara AS Culik Presiden Venezuela
Venezuela, dengan cadangan minyak terbesar di dunia, selama bertahun-tahun berada dalam tekanan ekonomi, sanksi, dan isolasi diplomatik akibat sikap politiknya yang berseberangan dengan kepentingan AS.
“Agresi ini bukan peristiwa tunggal, melainkan kelanjutan dari praktik intervensi yang berulang. Kita melihat preseden serupa di Chile, Guatemala, hingga Nicaragua, di mana AS terlibat langsung maupun tidak langsung dalam perubahan rezim,” kata Furqan.
Ia menilai eskalasi militer terbaru berisiko memicu ketegangan regional, terutama di tengah menguatnya poros negara-negara Amerika Latin yang berupaya menjaga jarak dari dominasi AS dan mempererat kerja sama dengan kekuatan global lain seperti Rusia, China, dan Iran.
Dalam konteks ini, Venezuela kerap diposisikan sebagai simbol perlawanan terhadap unilateralisme AS di kawasan.
Pelanggaran Piagam PBB
Furqan juga menegaskan bahwa agresi tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya prinsip non-intervensi dan penghormatan terhadap kedaulatan negara.
Menurutnya, legitimasi hukum internasional kembali dipertaruhkan ketika kekuatan besar menggunakan dalih keamanan untuk mengintervensi negara lain secara sepihak.
Atas dasar itu, FPN menyatakan solidaritas penuh kepada rakyat Venezuela dan Presiden Nicolas Maduro.
Furqan menyebut FPN akan menggelar aksi solidaritas di sejumlah kota di Indonesia sebagai bentuk penolakan terhadap politik kekerasan dan perampasan kedaulatan.
Ia juga menyerukan komunitas internasional, khususnya negara-negara Global South, untuk mengambil posisi tegas dalam menolak normalisasi intervensi militer.
Korban Jiwa
Sebelumnya, sedikitnya 40 orang dilaporkan tewas dalam operasi militer yang disebut melibatkan pasukan Delta Force AS di Venezuela pada Sabtu dini hari, 3 Januari 2026.
Korban dilaporkan berasal dari unsur militer maupun warga sipil.
Dalam konferensi pers usai operasi tersebut, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahannya akan mengambil alih kendali Venezuela, termasuk pengelolaan cadangan minyaknya.
Pernyataan itu memicu kecaman internasional karena dinilai menguatkan dugaan bahwa faktor ekonomi dan energi menjadi motif utama di balik agresi militer AS.
Bagi pengamat geopolitik, perkembangan ini berpotensi membuka babak baru ketegangan di Amerika Latin, sekaligus menguji konsistensi komunitas internasional dalam menegakkan hukum global dan prinsip kedaulatan negara.
Baca tanpa iklan