Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Venezuela, Minyak, dan Bayang-bayang Intervensi AS di Amerika Latin

Menurut Furqan, tindakan AS terhadap Venezuela mencerminkan pola lama intervensi Washington di kawasan Amerika Latin

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Venezuela, Minyak, dan Bayang-bayang Intervensi AS di Amerika Latin
HO/IST
PENANGKAPAN MADURO - Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap oleh operasi militer Amerika Serikat yang bergerak dari sejumlah pangkalan militer AS, Sabtu, 3 Januari 2025. Sejumlah negara seperti China mengecam keras, sebagian pemimpin negara lainnya menyatakan mendukung AS. 

Venezuela, Minyak, dan Bayang-bayang Intervensi AS di Amerika Latin

TRIBUNNEWS.COM - Sekretaris Jenderal Free Palestine Network (FPN), Furqan AMC, mengecam keras agresi militer Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela, yang dinilainya tidak hanya melanggar kedaulatan negara, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas geopolitik Amerika Latin secara luas.

Menurut Furqan, tindakan AS terhadap Venezuela mencerminkan pola lama intervensi Washington di kawasan tersebut, yang sejak era Perang Dingin kerap menjadikan Amerika Latin sebagai arena perebutan pengaruh politik, ideologi, dan sumber daya strategis.

Baca juga: Kombinasi Drone Canggih Plus Orang Dalam CIA, Cara AS Culik Presiden Venezuela

Venezuela, dengan cadangan minyak terbesar di dunia, selama bertahun-tahun berada dalam tekanan ekonomi, sanksi, dan isolasi diplomatik akibat sikap politiknya yang berseberangan dengan kepentingan AS.

“Agresi ini bukan peristiwa tunggal, melainkan kelanjutan dari praktik intervensi yang berulang. Kita melihat preseden serupa di Chile, Guatemala, hingga Nicaragua, di mana AS terlibat langsung maupun tidak langsung dalam perubahan rezim,” kata Furqan.

Ia menilai eskalasi militer terbaru berisiko memicu ketegangan regional, terutama di tengah menguatnya poros negara-negara Amerika Latin yang berupaya menjaga jarak dari dominasi AS dan mempererat kerja sama dengan kekuatan global lain seperti Rusia, China, dan Iran.

Dalam konteks ini, Venezuela kerap diposisikan sebagai simbol perlawanan terhadap unilateralisme AS di kawasan.

Pelanggaran Piagam PBB

Rekomendasi Untuk Anda

Furqan juga menegaskan bahwa agresi tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya prinsip non-intervensi dan penghormatan terhadap kedaulatan negara.

Menurutnya, legitimasi hukum internasional kembali dipertaruhkan ketika kekuatan besar menggunakan dalih keamanan untuk mengintervensi negara lain secara sepihak.

Atas dasar itu, FPN menyatakan solidaritas penuh kepada rakyat Venezuela dan Presiden Nicolas Maduro.

Furqan menyebut FPN akan menggelar aksi solidaritas di sejumlah kota di Indonesia sebagai bentuk penolakan terhadap politik kekerasan dan perampasan kedaulatan.

Ia juga menyerukan komunitas internasional, khususnya negara-negara Global South, untuk mengambil posisi tegas dalam menolak normalisasi intervensi militer.

INVASI MILITER AS - Media-media Amerika Serikat (AS) menyebut serangan ke Venezuela telah dimulai pada Sabtu (3/1/2026) dini hari waktu setempat. Serangkaian ledakan mengguncang Ibu Kota Caracas, membuat Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengumumkan keadaan darurat di sana.
INVASI MILITER AS - Media-media Amerika Serikat (AS) menyebut serangan ke Venezuela telah dimulai pada Sabtu (3/1/2026) dini hari waktu setempat. Serangkaian ledakan mengguncang Ibu Kota Caracas, membuat Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengumumkan keadaan darurat di sana. (Tangkapan layar media sosial)

Korban Jiwa

Sebelumnya, sedikitnya 40 orang dilaporkan tewas dalam operasi militer yang disebut melibatkan pasukan Delta Force AS di Venezuela pada Sabtu dini hari, 3 Januari 2026.

Korban dilaporkan berasal dari unsur militer maupun warga sipil.

Dalam konferensi pers usai operasi tersebut, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahannya akan mengambil alih kendali Venezuela, termasuk pengelolaan cadangan minyaknya.

Pernyataan itu memicu kecaman internasional karena dinilai menguatkan dugaan bahwa faktor ekonomi dan energi menjadi motif utama di balik agresi militer AS.

Bagi pengamat geopolitik, perkembangan ini berpotensi membuka babak baru ketegangan di Amerika Latin, sekaligus menguji konsistensi komunitas internasional dalam menegakkan hukum global dan prinsip kedaulatan negara.

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas