10 Pemimpin Dunia yang Digulingkan AS Sepanjang Sejarah: Saddam Hussein hingga Muammar Gaddafi
Amerika Serikat tercatat berulang kali terlibat dalam penggulingan pemimpin dunia, dengan alasan keamanan, demokrasi, dan stabilitas regional.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Endra Kurniawan
Pada Februari 1963, CIA mendukung kudeta yang dilakukan sayap militer Partai Ba’ath di Irak terhadap pemerintahan berhaluan kiri yang dipimpin Perdana Menteri Abdul-Karim Qasim.
Kebijakan pro-komunis dan anti-Barat Qasim dipandang sebagai ancaman oleh AS.
Sehari setelah kudeta, ia dieksekusi oleh regu tembak.
Kudeta dan pembunuhan Qasim membuka jalan bagi pemerintahan otoriter selama bertahun-tahun di bawah Partai Ba’ath.
4. Ngo Dinh Diem — Vietnam Selatan (1963)
Ngo Dinh Diem, pemimpin otoriter Vietnam Selatan yang sebelumnya dianggap AS sebagai benteng melawan komunisme di kawasan, digulingkan dan dibunuh dalam kudeta militer yang didukung CIA.
Kudeta itu terjadi setelah AS kehilangan kepercayaan terhadap kemampuannya melanjutkan Perang Vietnam.
Dokumen yang kemudian dideklasifikasi mengonfirmasi peran AS di balik layar.
5. Hudson Austin — Grenada (1983)
Pada Oktober 1983, Jenderal Hudson Austin dikudeta karena ia membentuk pemerintahan militer setelah pembunuhan Maurice Bishop pada Oktober 1983, yang memicu krisis politik di Grenada, negara kecil di Karibia.
Tindakan itu menimbulkan kecaman internasional.
Amerika Serikat bersama pasukan koalisi regional melakukan Invasi Grenada (Operasi Urgent Fury) untuk menggulingkan rezim militer Austin.
6. Jean-Claude Duvalier (Baby Doc) — Haiti (1986)
Jean-Claude Duvalier, dijuluki “Baby Doc”, adalah Presiden Haiti dari 1971 hingga 1986.
Ia mewarisi kekuasaan dari ayahnya, François Duvalier (Papa Doc), dan memerintah sebagai diktator seumur hidup hingga digulingkan oleh protes rakyat dan tekanan Amerika Serikat.
Baca juga: Reaksi Rakyat Venezuela setelah Presiden Maduro Ditangkap AS, Hening dan Cemas Menyelimuti
Pada 1986, protes meletus menuntut reformasi dan mengakhiri dinasti Duvalier.
AS menarik dukungan politik dan militer, memaksa Duvalier meninggalkan Haiti.
Peristiwa itu mengakhiri dinasti Duvalier, yang memerintah Haiti sebagai kediktatoran selama hampir tiga dekade.
Baca tanpa iklan