Serangan Amerika Serikat ke Venezuela Siratkan Pesan untuk China
Serangan Amerika Serikat (AS) ke Venezuela pada 3 Januari 2026 disebut sebagai rangkaian peristiwa yang sulit dianggap kebetulan.
Editor:
Wahyu Aji
Ringkasan Berita:
- Serangan AS ke Venezuela bermuatan geopolitik anti-China.
- Pengaruh China di Amerika Latin terus menggeser AS.
- Dampak regional dan tudingan imperialisme AS.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Serangan Amerika Serikat (AS) ke Venezuela pada 3 Januari 2026 disebut sebagai rangkaian peristiwa yang sulit dianggap kebetulan.
Penangkapan dilakukan hanya beberapa jam setelah Presiden Venezuela Nicolas Maduro bertemu dengan delegasi khusus Tiongkok.
Dikutip dari ABC News, Jumat (9/1/2026), selama berbulan-bulan AS di bawah Presiden Donald Trump telah menyuarakan kekhawatiran atas meningkatnya pengaruh Beijing di Amerika Latin.
Upaya diplomatik untuk 'mengkalibrasi ulang' kawasan bergeser ke penggunaan kekuatan militer sebagai alat penegasan kepentingan.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio secara terbuka menyatakan bahwa salah satu tujuan intervensi tersebut adalah membatasi investasi dari “musuh dan pesaing” AS—termasuk Tiongkok—di sektor minyak Venezuela.
“Ini adalah Belahan Bumi Barat. Di sinilah kita tinggal, dan kami tidak akan membiarkan kawasan ini menjadi basis operasi bagi musuh, pesaing, dan saingan Amerika Serikat,” ujar Rubio.
Beijing merupakan pembeli minyak terbesar Venezuela, dengan lebih dari 80 persen ekspor minyak negara itu dikirim ke China setiap tahun.
Meski minyak Venezuela hanya menyumbang sekitar 4 persen dari total impor energi China, perdagangan tersebut menjadi fondasi dari apa yang oleh kedua negara disebut sebagai 'kemitraan strategis dalam segala cuaca'.
Namun, pernyataan Trump bahwa AS tetap akan menjual minyak ke China justru memperjelas pesan ke Beijing: langkah militer ini bukan semata soal energi, melainkan soal kekuasaan dan upaya membangun kembali dominasi AS di kawasan.
Dampaknya berpotensi mengganggu keseimbangan ekonomi dan geopolitik yang tengah berubah di Belahan Bumi Barat.
China Menggeser Pengaruh AS di Amerika Latin
Selama dua dekade terakhir, pengaruh Tiongkok di Amerika Latin meningkat pesat, menjadikannya pesaing utama—bahkan dominan—bagi Amerika Serikat di sejumlah negara.
Beijing melampaui Washington sebagai mitra dagang terbesar Brasil, Chili, dan Peru, serta menjadi mitra dagang terbesar kedua Meksiko, salah satu sekutu dekat AS.
China juga membangun selusin pelabuhan utama di kawasan tersebut, termasuk pelabuhan berskala besar di Peru, serta fasilitas pelacakan antariksa di Bolivia.