Menlu Iran Tuduh Mossad Dalangi Kekerasan Demo, Singgung Standar Ganda AS
Menlu Iran Abbas Araghchi menuding Mossad berada di balik kekerasan demo di Iran, singgung peran pejabat Washington dalam konflik ini.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Garudea Prabawati
Senada dengan pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Presiden Iran Masoud Pezeshkian turut menguatkan tuduhan intervensi asing yang menurut Teheran menjadi penyebab di balik gelombang kekerasan dalam unjuk rasa di negara itu.
Pezeshkian menuduh Amerika Serikat dan Israel berupaya menciptakan kekacauan dan ketidakstabilan di Iran melalui dukungan terhadap kelompok tertentu, baik yang beroperasi di dalam negeri maupun dari luar negeri.
Serta menyusupkan apa yang ia sebut sebagai “teroris terlatih” dengan tujuan memicu kerusuhan yang lebih luas.
Pernyataan keras Pezeshkian ini menunjukkan sikap resmi pemerintah Iran yang menilai bahwa demonstrasi yang kerap berujung kekerasan bukan sekadar masalah domestik belaka, tetapi bagian dari intervensi asing yang terstruktur untuk melemahkan negara.
Dalam konteks ini, Iran terus menegaskan bahwa pihak luar berperan dalam memanfaatkan ketidakpuasan publik untuk memicu konflik yang lebih besar.
Sebagai bagian dari kritiknya terhadap Amerika Serikat, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memberi sinyal bahwa pemerintah siap melakukan tindakan yang tegas terhadap protes domestik.
Meskipun Amerika Serikat telah memberikan peringatan terhadap langkah-langkah keras tersebut.
Tekanan internal negeri ini dipertegas oleh pernyataan Jaksa Agung Iran, Mohammad Movahedi Azad, yang menyatakan bahwa siapapun yang ikut serta dalam demonstrasi dapat dianggap sebagai ‘musuh Tuhan’, sebuah label yang menurut hukum Iran bisa diancam dengan hukuman mati.
Langkah-langkah ini mencerminkan eskalasi retorika dan strategi pemerintah Iran dalam menghadapi protes yang berkelanjutan.
Sekaligus menegaskan klaim mereka bahwa kekerasan bukan hanya fenomena domestik, tetapi dipengaruhi oleh kekuatan eksternal yang berusaha memanfaatkan situasi untuk mengguncang kestabilan nasional.
(Tribunnews.com / Namira)