Jumlah WNI di Jepang Capai 230.000, Penduduk Asing Hampir 4 Juta
Jumlah WNI di Jepang tembus 230.000 per Juni 2025. Lonjakan penduduk asing ini menunjukkan peran signifikan tenaga kerja Indonesia.
Editor:
Eko Sutriyanto
Tetapi yang membuat mata terbuka adalah daerah-daerah yang tidak selalu terkenal sebagai “kota internasional”:
Misalnya di Miyazaki, komunitas asing hanya 11.511, namun Indonesia mencapai 2.626 orang (22,8%)—posisi kedua terbesar setelah Vietnam. Di Hokkaido, WNI mencapai 8.711 orang, termasuk kelompok terbesar di sana.
Materi paparan Ippei Torii (Solidarity Network with Migrants Japan/SMJ dan Zentoitsu Workers Union) menegaskan satu kalimat tajam.
“Masyarakat multietnis dan multikultural bukan visi masa depan—ini sudah terjadi di Jepang,” katanya.
Namun, ia memperingatkan bahwa kenaikan angka migran tidak otomatis berarti “hidup lebih aman.”
Program pemagangan 技能実習—yang banyak diisi WNI—kembali menjadi sorotan karena dinilai menyimpan masalah struktural yang “tidak berubah selama 30 tahun.”
Dalam kritiknya, sistem ini disebut rentan melahirkan praktik eksploitasi yaitu dari upah sangat rendah, pemulangan paksa, kekerasan, pelecehan seksual, hingga kondisi kerja dan hunian yang buruk.
Torii menilai persoalannya bukan kasus-kasus kecil, melainkan “contoh tipikal” dari struktur yang menempatkan pekerja sebagai objek yang bisa diganti.
Jepang ubah sistem magang, tapi kekhawatiran belum hilang.
Pemerintah Jepang telah bergerak mengubah kebijakan yaitu sistem 技能実習 direncanakan diganti dengan skema baru (育成就労) Ikusei Shūrō atau Skema Kerja dan Pelatihan Keterampilan (Employment for Skill Development Program).
"Tetapi pertanyaan besarnya adalah apakah pergantian nama akan benar-benar mengubah struktur yang selama ini membuat pekerja sulit berpindah kerja dan rentan bergantung pada pihak penerima?"
Baca juga: Mantan Pemagang Indonesia Jadi CEO Perusahaan Bakso di Jepang
Di sisi lain, status tinggal penduduk asing di Jepang juga menunjukkan pola jangka panjang yaitu kelompok terbesar adalah Permanent Resident (永住者) 918.116 orang (24,4%), disusul pemagang, pekerja profesional, pelajar, dan keluarga. Ini menandakan migrasi di Jepang bukan lagi fenomena sementara, melainkan komunitas yang makin mengakar.
Jepang butuh migran, tetapi harus jujur soal perlindungan
Lonjakan penduduk asing hingga 3,95 juta orang membuat satu hal sulit dibantah.
Jepang sangat bergantung pada tenaga dan keberadaan migran untuk menopang ekonomi dan masyarakat menua.