Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Arab Desak AS Batalkan Serangan ke Iran Demi Cegah Potensi Perang Kawasan

Negara Teluk desak AS batalkan serangan ke Iran, khawatir gangguan Selat Hormuz picu krisis energi global. Menlu Iran klaim situasi sudah aman.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Arab Desak AS Batalkan Serangan ke Iran Demi Cegah Potensi Perang Kawasan
HO/IST
POROS BARU - Bendera Iran, Pakistan, dan Arab Saudi. Pengumuman pakta pertahanan baru antara Pakistan dan Arab Saudi pada September mendapat sambutan positif dari musuh bebuyutan Kerajaan sejak 1979: Republik Islam Iran. Negara Teluk desak AS batalkan serangan ke Iran, khawatir gangguan Selat Hormuz picu krisis energi global. Menlu Iran klaim situasi sudah aman. 

Ringkasan Berita:
  • Arab Saudi, Qatar, dan Oman mendesak AS menahan diri, menekankan serangan dapat mengganggu Selat Hormuz, jalur vital bagi pengapalan minyak globaL.
  • Intervensi militer berisiko memicu respons keras Iran dan sekutunya, memperluas konflik hingga melibatkan negara regional dan kelompok proxy, menimbulkan ketidakstabilan politik berkepanjangan.
  • Abbas Araghchi menegaskan gelombang protes sejak Desember telah berakhir, kondisi aman terkendali, sekaligus membantah isu eksekusi pengunjuk rasa.

TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah negara Teluk Arab memperingatkan Amerika Serikat agar (AS) agar tidak melancarkan serangan militer terhadap Iran.

Peringatan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan dan gelombang protes besar yang masih mengguncang Teheran, akibat krisis uang dan penurunan mata uang yang mengancam stabilitas ekonomi dan politik global.

Negara-negara Teluk menekankan serangan terhadap Iran dampaknya akan  langsung mengancam Selat Hormuz, jalur pelayaran paling strategis bagi perdagangan energi dunia.

Mengutip dari Anadolu, selat Hormuz merupakan perairan sempit yang memisahkan Iran dengan negara-negara Arab Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Oman.

Lebarnya di titik tersempit hanya sekitar puluhan kilometer, menjadikannya sangat rentan terhadap gangguan militer, baik berupa serangan langsung, ranjau laut, penembakan rudal, maupun blokade terbatas.

Terlebih sekitar seperlima dari total pengapalan minyak global melewati selat ini setiap hari, termasuk ekspor minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk menuju pasar Asia, Eropa, dan Amerika.

Dampak Perang AS vs Iran

Rekomendasi Untuk Anda

Negara-negara Teluk khawatir Iran dapat menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tekanan strategis jika diserang, baik dengan membatasi pelayaran maupun menciptakan situasi tidak aman bagi kapal dagang.

Meski Iran tidak menutup selat secara resmi, gangguan kecil saja seperti insiden keamanan atau ancaman militer cukup untuk mengguncang pasar minyak dunia.

Baca juga: Iran-AS Memanas, Arab Saudi Tidak Izinkan Wilayah Udaranya Digunakan dalam Serangan

Bagi negara-negara Teluk, stabilitas Selat Hormuz bukan hanya isu keamanan, tetapi juga kepentingan ekonomi vital.

Jika Selat Hormuz terganggu bahkan sebagian, harga minyak mentah bisa melonjak bahkan melampaui 100–150 dolar AS per barel, angka yang jauh di atas harga normal pasar.

Gangguan di jalur ini berisiko menurunkan pendapatan ekspor, mengguncang pasar keuangan, dan menghambat agenda pembangunan jangka panjang yang pada akhirnya mendorong inflasi di banyak negara.

Karena itulah, negara-negara Teluk menilai serangan militer terhadap Iran bukan sekadar konflik bilateral, melainkan ancaman serius terhadap stabilitas energi dan ekonomi global.

Selain risiko ekonomi, negara-negara Teluk juga mengkhawatirkan dampak politik dan keamanan.

Intervensi militer AS dapat memicu respons keras dari Iran dan sekutunya.

Tehran sebelumnya telah mengancam akan melakukan tindakan balasan terhadap pangkalan-pangkalan AS di kawasan, termasuk kemungkinan mengancam jalur pelayaran dan target militer di negara-negara tetangga.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas