Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Iran Buka Kembali Wilayah Udaranya, Pesan Araghchi ke AS: Jangan Ulangi Kesalahan yang Sama

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Rabu (14/1/2026) memperingatkan Amerika untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Iran Buka Kembali Wilayah Udaranya, Pesan Araghchi ke AS: Jangan Ulangi Kesalahan yang Sama
tangkapan layar
PROTES DI IRAN - Tangkap layar YouTube Iran International, menampilkan situasi aksi protes yang terjadi di Iran, Januari 2026. Ribuan warga Iran turun ke jalan memprotes anjloknya mata uang dan inflasi tinggi, yang membuat kebutuhan pokok tak lagi terjangkau. 

Ringkasan Berita:
  • Iran menghadapi peningkatan kerusuhan saat protes memasuki hari ke-20 di tengah keruntuhan ekonomi. 
  • Iran menutup sementara wilayah udaranya menyusul ancaman AS. 
  • Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi memperingatkan Presiden Trump agar tidak mengulangi serangan Juni.
  • Araghchi mendesak diplomasi daripada perang karena eksekusi dan ketegangan global menimbulkan kekhawatiran konflik besar.

Iran Buka Kembali Wilayah Udaranya, Pesan Araghchi ke AS: Jangan Ulangi Kesalahan yang Sama

TRIBUNNEWS.COM - Di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat (AS), Iran membuka kembali wilayah udaranya untuk penerbangan komersial Kamis (15/1/2026) setelah sebelumnya menutupnya untuk sementara. 

Hal ini terjadi di tengah meningkatnya perbincangan seputar serangan AS terhadap Teheran.

Selain itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Rabu (14/1/2026) memperingatkan Amerika untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi.

Ia merujuk pada serangan AS pada bulan Juni tahun lalu terhadap situs nuklir Iran. 

Baca juga: Perbandingan Kekuatan Militer Amerika Serikat Vs Iran yang di Ambang Perang

Penutupan Wilayah Udara dan Pesan Araghchi 

Menurut pemberitahuan yang diposting oleh Administrasi Penerbangan Federal, Iran membatasi pergerakan penerbangan dari pukul 22:15 UTC hari Rabu hingga 00:30 UTC hari Kamis.

Rekomendasi Untuk Anda

Pembatasan tersebut kemudian diperpanjang hingga pukul 07:30 waktu setempat.
 
Berbicara kepada pembawa acara Fox News, Bret Baier, Abbas Araghchi memperingatkan Washington untuk tidak mengulangi kesalahan masa lalu, merujuk pada serangan Amerika terhadap tiga fasilitas nuklir di Iran sebagai bagian dari perang Iran-Israel selama 12 hari pada Juni 2025.

Menteri Luar Negeri Iran itu mengatakan, “Pesan saya adalah jangan mengulangi kesalahan yang sama seperti yang Anda lakukan pada bulan Juni. Anda tahu, jika Anda mencoba pengalaman yang gagal, Anda akan mendapatkan hasil yang sama."

"Anda tahu pada bulan Juni, Anda menghancurkan fasilitas, mesin-mesinnya, tetapi teknologi tidak dapat dibom. Dan tekad juga tidak dapat dibom,” katanya.

Menlu Araghchi lebih lanjut mengatakan bahwa Iran selalu siap untuk bernegosiasi dan berdiplomasi, dan menuduh AS selalu menghindarinya.

"Sekarang Iran telah membuktikan kesiapannya untuk bernegosiasi dan berdiplomasi... kami telah membuktikannya dalam 20 tahun terakhir, tetapi AS-lah yang selalu menghindari diplomasi, yang memutus diplomasi dan memilih perang," kata dia.

"Pesan saya adalah antara perang dan diplomasi; diplomasi adalah jalan yang lebih baik... meskipun kami tidak mendapat respons positif dari AS. Namun demikian, diplomasi jauh lebih baik daripada perang," katanya.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menginformasikan bahwa "pembunuhan di Iran sedang berhenti" dan bahwa "tidak ada rencana untuk eksekusi." 

Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih selama upacara penandatanganan, Trump mengatakan, "Kami diberitahu bahwa pembunuhan di Iran sedang berhenti, dan tidak ada rencana untuk eksekusi atau pelaksanaan hukuman mati. Saya telah diberitahu hal itu dari sumber yang dapat dipercaya. Kita akan mengetahuinya nanti."

Kedutaan Besar Iran juga mengeluarkan pernyataan yang mengatakan, "Tindakan sepihak Amerika Serikat terhadap tatanan global yang ada—termasuk pemberlakuan tarif yang tidak adil dan penarikan diri dari 66 lembaga internasional—telah mendorong dunia menuju kehancuran norma-norma global."

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas