Eks Bos Intelijen Israel Akui Rezim Iran Tetap Kuat dan Solid: Berdaya Tahan
Eks Bos Intelijen Israel Amos Yadlin mengakui bahwa rezim Iran tetap solid dan berdaya tahan.
Penulis:
garudea prabawati
Editor:
Nuryanti
Ringkasan Berita:
- Mantan Kepala Intelijen Militer Israel, Amos Yadlin, mengakui bahwa rezim Iran tetap kuat dan solid.
- Hal ini bertentangan dengan narasi media Israel yang menggambarkan pemerintahan Iran melemah di tengah gejolak.
- Diketahui protes besar-besaran di Iran sejak 28 Desember 2025 dipicu krisis ekonomi, termasuk anjloknya nilai rial, inflasi tinggi, dan lonjakan harga kebutuhan pokok, yang menyebabkan ratusan korban jiwa.
TRIBUNNEWS.COM - Seorang mantan pejabat tinggi intelijen Israel, Amos Yadlin, mengakui bahwa rezim Iran tetap solid dan berdaya tahan.
Pernyataannya tersebut berlawanan dengan narasi yang berkembang di media Israel dalam beberapa pekan terakhir, terutama di tengah memanasnya situasi di Iran.
Diketahui Iran tengah memanas, demo besar-besaran terjadi, protes rakyat dimulai pada 28 Desember 2025, terutama sebagai reaksi terhadap keruntuhan nilai mata uang rial, inflasi tinggi, dan melonjaknya harga kebutuhan pokok.
Aksi demonstrasi tersebut pun membuat ratusan korban jiwa berjatuhan.
Di tengah gejolak rakyat, tampak narasi yang beredar di media makin kompleks usai Amerika Serikat (AS) dinilai campur tangan, termasuk soal cuitan Presiden AS Donald Trump yang meminta rakyat Iran untuk terus berdemo.
Sementara itu soal pengakuan eks petinggi intelijen Israel tersebut dinilai mengekspos kekeliruan penilaian serta bias dalam pemberitaan mengenai kondisi internal Iran.
Amos Yadlin, yang merupakan mantan Kepala Intelijen Militer Israel menyatakan bahwa analisis yang beredar di media Israel terkait melemahnya pemerintahan Iran tidak mencerminkan realitas di lapangan.
Dalam pernyataannya yang dikutip Channel 13, Yadlin menegaskan bahwa otoritas Iran masih sangat kuat dan mampu mempertahankan stabilitas negara.
“Rezim Iran sangat kuat dan telah turun ke jalan,” ujar Yadlin.
Ia menekankan bahwa interpretasi sejumlah komentator berbahasa Persia yang menggambarkan adanya keretakan serius dalam tubuh pemerintahan Iran tidak sesuai dengan fakta.
Menurutnya, kohesi internal dan kemampuan negara untuk merespons perkembangan terbaru justru menunjukkan kekuatan struktural yang signifikan.
Baca juga: Kali Ini Peluru Tak Akan Meleset, Ancaman Pembunuhan Trump di Tengah Niat AS Serang Iran
Sementara itu, pemerintah Iran menyatakan bahwa kerusuhan yang terjadi baru-baru ini bukanlah murni protes damai, melainkan telah disusupi oleh aksi kekerasan dan sabotase.
Teheran menuding kelompok teroris dan separatis yang didukung oleh badan intelijen Israel, Mossad, serta Amerika Serikat berada di balik eskalasi kekerasan tersebut.
Pihak berwenang Iran menegaskan telah memiliki bukti atas keterlibatan pihak asing, yang diklaim telah dikonfirmasi melalui penyelidikan awal.
Pemerintah Iran juga mengkritik pernyataan Donald Trump, yang dinilai sebagai hasutan terhadap kekerasan alih-alih dukungan terhadap demonstrasi damai.
Baca tanpa iklan