Delegasi Ukraina Lanjutkan Perundingan dengan AS, Bahas Jaminan Keamanan
Duta besar Ukraina mengatakan delegasi negaranya akan melanjutkan perundingan dengan AS yang membahas tentang jaminan keamanan.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan Prancis kini menyediakan sekitar dua pertiga intelijen yang diterima Ukraina dari para mitranya.
Menurutnya, perubahan ini bertujuan mengurangi ketergantungan Kyiv pada Amerika Serikat.
"Dahulu Ukraina sangat bergantung pada kemampuan intelijen Amerika, dengan sebagian besar (disediakan oleh AS) setahun yang lalu," kata Macron, seraya menambahkan, "Namun selama setahun terakhir, dua pertiganya kini disediakan oleh Prancis."
Langkah ini diambil setelah intelijen AS beberapa kali dijadikan alat tekanan politik terhadap Ukraina oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.
Meski AS tetap memberi dukungan intelijen penting—termasuk peringatan dini peluncuran rudal balistik—Prancis meningkatkan perannya dengan berbagi citra satelit, intelijen sinyal, dan siber yang krusial bagi operasi militer Ukraina.
Macron menegaskan bahwa dalam setahun terakhir, kontribusi Prancis meningkat signifikan dibanding sebelumnya, lapor Kyiv Independent.
-
Mantan Sekjen NATO Minta Eropa Bicara dengan Rusia
Mantan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg menyerukan negara-negara Barat untuk "berbicara dengan Rusia sebagai tetangga."
"Kita perlu membahas penghentian pertempuran di Ukraina dengan Rusia, sama seperti yang kita, Amerika Serikat, dan negara-negara lain lakukan," kata pria yang mengakhiri jabatannya sebagai sekjen NATO pada tahun 2024, kepada wartawan Der Spiegel, Jumat (16/1/2026).
"Kita perlu berbicara dengan Rusia sebagai tetangga," lanjutnya.
Jens Stoltenberg mencatat bahwa kembalinya dialog dengan Rusia diperlukan, antara lain, untuk membahas pengendalian senjata.
"Bahkan selama Perang Dingin, kita berhasil membatasi senjata nuklir, tetapi arsitektur itu tidak lagi ada," katanya.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)