Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Kaum Rebahan, Migrasi dan Perlawanan Terselubung Warga Tiongkok Terhadap PKC

Sebagian masyarakat China mencanangkan gaya hidup santai yang dikenal dengan sebutan 'tangping' atau 'rebahan'.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Choirul Arifin
Editor: Erik S
zoom-in Kaum Rebahan, Migrasi dan Perlawanan Terselubung Warga Tiongkok Terhadap PKC
HO/IST/Istimewa/HO
FENOMENA WARGA TIONGKOK - Pengamat Tiongkok sekaligus pengajar di Budapest University of Economics (Corvinus), Budapest, dan Vrije Universiteit (VU) Amsterdam, Prof. Dr. Pal Nyiri (kiri) dan Dr. Johanes Herlijanto, ketua Forum Sinologi Indonesia di acara seminar “From Taojin To Tangping: Southeast Asia, Chinese Migration, and the Waves of China’s Re-globalisation” di Jakarta 17 Januari 2026.  

Contohnya, meningkatnya pengangguran di kalangan lulusan universitas, menurunnya fenomena peningkatan strata.

Dengan kata lain, semakin sulit bagi orang-orang yang tidak lahir dari kalangan istimewa untuk memperoleh kesuksesan dalam masyarakat Cina, -- dan munculnya fenomena involusi atau neijuan. 

Fenomena involusi ini merujuk pada fakta bahwa seorang di China harus melakukan investasi berlebih dalam hal uang dan waktu demi mempertahankan status sebagai kelas menengah. Berbagai permasalahan sosial di atas, dibarengi dengan kontrol politik yang ketat, membuat kelas menengah di China tidak menemukan kebahagiaan.

Mereka memimpikan kebebasan. Meski tidak serta merta melakukan oposisi terhadap pemerintah, mereka merasa keberatan diwajibkan mempelajari ide-ide Xi Jinping dan berbagai hal lainnya. 

Sebagai respons terhadap keadaan di atas, sebagian masyarakat di China mencanangkan gaya hidup santai yang dikenal dengan sebutan 'tangping' atau 'rebahan'.

Mereka pergi meninggalkan kota besar dan hidup di kota kecil dengan lingkungan yang jauh lebih menyenangkan dengan tekanan yang lebih rendah. Namun sebagian dari mereka memilih untuk meninggalkan Cina. 

Menurut Prof Nyiri, fenomena ini semakin marak berlangsung sejak pandemi Covid 19, sebagai akibat dari kebijakan penguncian (lockdown) sangat ketat yang dilaksanakan oleh RRC terhadap warganya. 

Rekomendasi Untuk Anda

“Penguncian ini menimbulkan efek kejut (shock) yang dalam bagi orang-orang tertentu di China. Orang-orang yang memiliki gaya hidup kelas atas akhirnya menyadari bahwa pemerintah bisa saja membuat mereka terkurung."

"Intervensi ini sangat mengejutkan bagi generasi dan kelas (atas) ini, sehingga mereka mencari tujuan di luar China untuk berpindah,” kata Prof Nyiri. 

Masyarakat Beragam dan Dinamis

Pemerhati China yang juga merupakan Ketua FSI, Johanes Herlijanto, dalam keterangannya menyatakan bahwa peristiwa yang dijelaskan oleh Prof Nyiri di atas sangat penting bagi upaya memahami orang-orang China daratan serta dinamika hubungan kekuasaan yang berlangsung di China

Menurutnya, masyarakat China merupakan masyarakat yang beragam dan dinamis, dan tidak hanya memiliki seperangkat karakteristik tunggal.

Baca juga: China Makin Ekspansif, Sailun Investasi 251 Juta Dolar Bangun Pabrik Ban Radial di Demak Jateng

Karena itu, wacana bahwa pekerja asal China selalu memiliki etos kerja yang lebih baik dari pekerja Indonesia merupakan sebuah wacana yang tidak tepat dan mengandung bias esensialis. 

Ia juga berpandangan, kajian di atas memperlihatkan bahwa berbeda dari propaganda yang tersebar di media milik pemerintah RRC dan media sosial, China bukanlah sebuah negara tanpa permasalahan ekonomi dan sosial. 

Sebaliknya, berbagai permasalahan dari mulai pengangguran hingga ketatnya persaingan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di sana. Ini memunculkan motivasi bagi kalangan tertentu untuk meninggalkan negerinya dan menetap di negara lain. 

Yang tak kalah penting, sistem politik otoritarian yang diwarnai dengan intervensi berlebihan pemerintah ke dalam ranah ekonomi dan privat, ternyata menyebabkan kekecewaan dan ketidaksukaan di kalangan tertentu dalam masyarakat China.

Mereka yang memiliki kemampuan ekonomi merespons kondisi di atas dengan melakukan perlawanan, meski perlawanan itu dilakukan secara tersembunyi.(fin) 

 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 3/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas