Gagal Raih Nobel, Trump Buka-bukaan soal Ambisi Caplok Greenland
Gagal raih Nobel Perdamaian, Trump buka-bukaan soal ambisi kuasai Greenland. Ancaman tarif hingga opsi militer memicu ketegangan AS–Eropa.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Febri Prasetyo
Pernyataan tersebut langsung memicu kekhawatiran internasional terkait potensi eskalasi konflik dan meluasnya risiko perang.
Norwegia Tegaskan Tak Campur Tangan Soal Nobel
Saat merespons pernyataan Trump, Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Støre menjelaskan bahwa pesan bernada keras tersebut diterimanya sebagai balasan atas komunikasi yang ia lakukan bersama Presiden Finlandia Alexander Stubb.
Sebelumnya, kedua pemimpin Eropa itu mengirim pesan kepada Trump untuk menyampaikan penolakan atas rencana kenaikan tarif Amerika Serikat sekaligus mengimbau agar ketegangan diredakan.
Dalam pesan awal tersebut, Gahr Støre dan Stubb menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah situasi global yang semakin tidak stabil, serta mengusulkan pembicaraan langsung melalui panggilan telepon bersama.
Namun, menurut laporan The New York Times, balasan Trump justru menunjukkan sikap yang lebih konfrontatif dan kembali mengaitkan sengketa Greenland dengan kegagalannya meraih Hadiah Nobel Perdamaian.
Untuk menanggapi hal itu, Gahr Støre menegaskan bahwa klaim Trump terkait Nobel Perdamaian tidak tepat.
Ia menekankan bahwa pemerintah Norwegia tidak memiliki kewenangan dalam menentukan penerima penghargaan tersebut.
Sejak 1901, Hadiah Nobel Perdamaian diputuskan secara independen oleh Komite Nobel Norwegia yang beranggotakan lima orang.
Gahr Støre juga menegaskan posisi resmi Norwegia terkait Greenland.
Menurutnya, Greenland merupakan bagian dari Kerajaan Denmark, dan Norwegia sepenuhnya mendukung kedaulatan Denmark atas wilayah tersebut.
Ia juga menyatakan dukungan terhadap langkah-langkah NATO dalam memperkuat keamanan dan stabilitas kawasan Arktik di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Perselisihan terbuka ini menandai puncak dari retorika Amerika Serikat yang semakin agresif terhadap Greenland dalam beberapa pekan terakhir, sekaligus memperdalam jurang ketegangan antara Washington dan sekutunya di Eropa.
(Tribunnews.com / Namira)
Baca tanpa iklan