Trump Konfirmasi Armada Besar-besaran Bergerak Menuju Iran, tapi Berharap Tidak Digunakan
Donald Trump mengonfirmasi armada besar kapal militer AS bergerak menuju Iran sebagai langkah antisipasi.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Bobby Wiratama
Meski demikian, pekan lalu Trump menahan diri dari rencana serangan militer besar setelah mendapat desakan dari sekutu-sekutunya di Timur Tengah untuk menahan eskalasi.
Trump juga menyatakan tarif 25 persen terhadap negara-negara yang berbisnis dengan Iran, seperti China dan Uni Emirat Arab, akan diberlakukan segera.
Dalam pernyataan panjangnya, Trump kembali mengklaim telah menghentikan rencana eksekusi massal di Iran.
“Saya berkata, ‘Jika kalian menggantung orang-orang itu, kalian akan dihantam lebih keras daripada yang pernah kalian alami.’ Satu jam sebelum itu terjadi, mereka membatalkannya. Itu pertanda baik,” ujarnya.
“Tetapi kita punya armada besar di sana. Mungkin kita tidak perlu menggunakannya. Kita lihat saja nanti.”
Akhir pekan lalu, Trump secara terbuka menyerukan perubahan kepemimpinan di Iran.
Ia menuduh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei telah menghancurkan negara sepenuhnya dan menggunakan kekerasan pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Namun pada Kamis (22/1/2026), Trump mengisyaratkan masih membuka pintu diplomasi.
“Iran ingin berbicara, dan kita akan berbicara,” kata Trump setelah menghadiri Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss.
Iran Akan Balas Jika AS Menyerang
Iran memperingatkan akan membalas jika Amerika Serikat kembali melancarkan serangan militer.
Iran menuduh AS dan sekutunya memanfaatkan kerusuhan yang terjadi baru-baru ini untuk mendorong kawasan tersebut menuju konflik yang lebih luas.
Baca juga: 5 Populer Internasional: Indonesia Masuk Dewan Perdamaian - Kapal Induk AS Bergerak Menuju Iran
Dalam opini yang dimuat di Wall Street Journal pada 20 Januari 2026, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan protes di negaranya awalnya berlangsung damai, sebelum kemudian dibajak oleh aktor teroris asing dan domestik.
Menurutnya, situasi tersebut memicu penindakan keras pemerintah, disertai pemadaman internet dan komunikasi hampir total.
Araghchi juga menyalahkan retorika AS yang dinilai memperburuk pertumpahan darah.
Ia menilai peringatan dari Donald Trump justru menciptakan insentif bagi kekerasan massal.