Trump Konfirmasi Armada Besar-besaran Bergerak Menuju Iran, tapi Berharap Tidak Digunakan
Donald Trump mengonfirmasi armada besar kapal militer AS bergerak menuju Iran sebagai langkah antisipasi.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Bobby Wiratama
Ringkasan Berita:
- Donald Trump mengonfirmasi armada besar kapal militer AS bergerak menuju Iran sebagai langkah antisipasi.
- Ia berharap kekuatan tersebut tidak perlu digunakan meski ketegangan dengan Teheran terus meningkat.
- Kapal induk USS Abraham Lincoln dan kapal perusak pendamping sudah berlayar dari Asia-Pasifik ke arah barat.
TRIBUNNEWS.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi bahwa armada besar kapal militer AS sedang bergerak menuju Iran.
Meski demikian, ia menegaskan berharap pengerahan kekuatan tersebut tidak perlu digunakan.
Berbicara kepada wartawan di atas pesawat Air Force One setelah agenda di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026), Trump menyebut pengerahan armada dilakukan sebagai langkah antisipasi di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
“Mereka mengatakan bahwa mereka membatalkannya. Mereka tidak menundanya,” ujar Trump, merujuk pada klaim bahwa Iran membatalkan rencana eksekusi 837 demonstran.
“Kami memiliki banyak kapal yang menuju ke arah sana, untuk berjaga-jaga."
"Saya lebih suka tidak terjadi apa pun, tetapi kami mengawasi mereka dengan sangat cermat.”
Trump menambahkan bahwa AS memiliki armada besar yang bergerak ke kawasan tersebut, meski ia berharap kekuatan itu tidak perlu digunakan.
Pada Selasa (20/1/2026), kapal induk USS Abraham Lincoln, yang sebelumnya berada di Laut China Selatan, terpantau bergerak menuju wilayah tersebut berdasarkan data pelacakan kapal yang dilansir NY Post.
Kapal induk itu berlayar bersama tiga kapal perusak pendamping.
Seorang pejabat Angkatan Laut AS kepada Associated Press memastikan seluruh armada bergerak ke arah barat.
Pengerahan ini memperluas opsi militer yang tersedia bagi Trump, baik untuk melindungi pasukan AS di kawasan maupun untuk kemungkinan operasi tambahan, menyusul serangan terhadap situs nuklir Iran pada Juni lalu.
Baca juga: Kapal Induk AS Tinggalkan Pasifik Barat, Diyakini Menuju Iran dan Tiba Minggu Ini
Trump berulang kali mengancam akan campur tangan atas dugaan pembunuhan demonstran di Iran.
Namun, gelombang protes tersebut mulai mereda dalam beberapa hari terakhir.
Pada 2 Januari, Trump mengatakan jika Iran membunuh demonstran damai secara brutal, Amerika Serikat akan datang menyelamatkan mereka.
"Kita siap siaga dan siap bertindak," ujar Trump.
Meski demikian, pekan lalu Trump menahan diri dari rencana serangan militer besar setelah mendapat desakan dari sekutu-sekutunya di Timur Tengah untuk menahan eskalasi.
Trump juga menyatakan tarif 25 persen terhadap negara-negara yang berbisnis dengan Iran, seperti China dan Uni Emirat Arab, akan diberlakukan segera.
Dalam pernyataan panjangnya, Trump kembali mengklaim telah menghentikan rencana eksekusi massal di Iran.
“Saya berkata, ‘Jika kalian menggantung orang-orang itu, kalian akan dihantam lebih keras daripada yang pernah kalian alami.’ Satu jam sebelum itu terjadi, mereka membatalkannya. Itu pertanda baik,” ujarnya.
“Tetapi kita punya armada besar di sana. Mungkin kita tidak perlu menggunakannya. Kita lihat saja nanti.”
Akhir pekan lalu, Trump secara terbuka menyerukan perubahan kepemimpinan di Iran.
Ia menuduh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei telah menghancurkan negara sepenuhnya dan menggunakan kekerasan pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Namun pada Kamis (22/1/2026), Trump mengisyaratkan masih membuka pintu diplomasi.
“Iran ingin berbicara, dan kita akan berbicara,” kata Trump setelah menghadiri Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss.
Iran Akan Balas Jika AS Menyerang
Iran memperingatkan akan membalas jika Amerika Serikat kembali melancarkan serangan militer.
Iran menuduh AS dan sekutunya memanfaatkan kerusuhan yang terjadi baru-baru ini untuk mendorong kawasan tersebut menuju konflik yang lebih luas.
Baca juga: 5 Populer Internasional: Indonesia Masuk Dewan Perdamaian - Kapal Induk AS Bergerak Menuju Iran
Dalam opini yang dimuat di Wall Street Journal pada 20 Januari 2026, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan protes di negaranya awalnya berlangsung damai, sebelum kemudian dibajak oleh aktor teroris asing dan domestik.
Menurutnya, situasi tersebut memicu penindakan keras pemerintah, disertai pemadaman internet dan komunikasi hampir total.
Araghchi juga menyalahkan retorika AS yang dinilai memperburuk pertumpahan darah.
Ia menilai peringatan dari Donald Trump justru menciptakan insentif bagi kekerasan massal.
Meski menegaskan Iran masih mengutamakan jalur diplomasi, Araghchi memperingatkan bahwa setiap serangan di masa mendatang akan memicu respons yang jauh lebih keras dan berisiko menyulut konflik regional berkepanjangan.
“Saat rakyat Iran berduka atas orang-orang terkasih mereka dan membangun kembali apa yang telah hancur, ancaman lain muncul: kegagalan diplomasi,” tulisnya.
“Tidak seperti sikap menahan diri yang ditunjukkan Iran pada Juni 2025, angkatan bersenjata kami tidak akan ragu membalas dengan semua yang kami miliki jika diserang lagi.”
Ia juga menyampaikan pesan langsung kepada Trump.
“AS telah mencoba berbagai tindakan permusuhan terhadap Iran, mulai dari sanksi, serangan siber, hingga serangan militer langsung, dan semuanya gagal. Sudah saatnya berpikir berbeda. Cobalah rasa hormat, agar kita bisa maju lebih jauh dari yang dibayangkan,” ujarnya.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.