5 Populer Internasional: Drone Kamikaze Geran yang Ditakuti Ukraina - Bonus Tentara Bayaran Rusia
Rusia disebut mampu memproduksi ratusan drone kamikaze rancangan Iran setiap hari yang menjadi ancaman bagi Ukraina.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Garudea Prabawati
Mengomentari pembentukan Dewan Perdamaian, Gardiner menyebut badan tersebut tidak layak menyandang nama dewan perdamaian karena komposisi anggotanya yang kontroversial.
Dalam wawancara eksklusif bersama media Inggris, LBC, Gardiner menyoroti kehadiran tokoh-tokoh seperti Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Rusia Vladimir Putin di dalam dewan yang sama.
Menurutnya, keberadaan kedua tokoh tersebut justru menjadi antitesis dari tujuan perdamaian itu sendiri.
Selain itu, salah satu poin krusial yang ditekankan Gardiner adalah ketiadaan perwakilan dari rakyat Palestina dalam dewan tersebut.
Ia menegaskan bahwa nasib Palestina tidak boleh diputuskan tanpa melibatkan pihak Palestina secara langsung.
"Kita perlu memetakan jalan ke depan yang menghormati hak penentuan nasib sendiri bagi rakyat Palestina."
"Namun, sama sekali tidak ada representasi dari Palestina di dewan ini," ujar Gardiner dalam wawancaranya di YouTube LBC.
Ia juga menyinggung rekam jejak Netanyahu yang secara konsisten menentang solusi dua negara dan merusak fasilitas PBB di Yerusalem Timur.
"Sangat sulit melihat bagaimana sebuah dewan yang menampung Netanyahu dan Putin dapat disebut sebagai dewan perdamaian," tambahnya.
Gardiner mengkhawatirkan bahwa dewan ini hanyalah alat bagi Trump untuk mengabaikan mekanisme internasional yang sudah ada, termasuk PBB.
Ia menduga ada motif strategis di balik langkah Trump yang juga mengajak Putin bergabung.
5. Banyak Tentara IDF Tewas di Gaza, Netanyahu: Gara-gara Kebijakan Biden
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melontarkan pernyataan keras tentang kerugian personel militer negaranya dalam perang melawan Hamas di Gaza.
Dalam pernyataannya pada Selasa (27/1/2026), Netanyahu menyebut sejumlah tentara Israel kehilangan nyawa di Jalur Gaza akibat kebijakan "embargo senjata" yang diterapkan oleh mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden.
Netanyahu menyatakan bahwa Israel harus membayar "harga yang sangat mahal" dalam perang ini.
Ia secara spesifik menunjuk kekurangan amunisi sebagai faktor utama yang menyebabkan gugurnya para prajurit di medan tempur.
"Para pahlawan kita gugur karena mereka tidak memiliki amunisi yang mereka butuhkan. Dan sebagian dari hilangnya amunisi tersebut disebabkan oleh embargo," tegas Netanyahu sebagaimana dikutip dari The Times of Israel.
Meskipun tak menyebut nama Biden secara langsung, Netanyahu memberikan indikasi kuat bahwa kebijakan tersebut berakhir seiring dengan dilantiknya Donald Trump sebagai Presiden AS yang baru.
Dia menyebut bahwa masalah pasokan senjata tersebut "berakhir segera setelah Presiden Trump menjabat".
Di sisi lain, Amos Hochstein, salah satu ajudan utama Biden, mengatakan bahwa Netanyahu berbohong.
"Netanyahu tidak mengatakan yang sebenarnya dan tidak berterima kasih kepada Presiden yang secara harfiah menyelamatkan Israel pada saat paling rentan," kata Hochstein kepada Axios.
Hochstein juga menyatakan melalui media sosial X bahwa AS di bawah kepemimpinan Biden telah memberikan dukungan militer kepada Israel lebih dari $20 miliar atau sekitar Rp333 triliun.
Dukungan militer itu, kata Hochstein, merupakan yang terbesar dalam sejarah.
(Tribunnews.com)
Baca tanpa iklan