Permintaan AS Tak Digubris Iran, Trump: Serangan Berikutnya Lebih Dahsyat
Presiden AS Donald Trump memberikan ultimatum keras ke Iran setelah pembicaraan nuklir gagal mencapai kemajuan.
Penulis:
Whiesa Daniswara
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
Ringkasan Berita:
- Presiden AS, Donald Trump memberikan ultimatum keras terhadap Iran setelah pembicaraan nuklir gagal mencapai kemajuan.
- Trump mendesak Iran untuk segera kembali ke meja perundingan guna menyepakati perjanjian nuklir baru, atau menghadapi risiko tindakan militer langsung dari AS.
- AS tidak akan segan melancarkan serangan yang jauh lebih destruktif dibandingkan operasi militer sebelumnya jika Iran menolak berunding.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump kembali memanaskan situasi di Timur Tengah dengan mengeluarkan peringatan keras kepada Iran.
Trump mendesak Iran untuk segera kembali ke meja perundingan guna menyepakati perjanjian nuklir baru, atau menghadapi risiko tindakan militer langsung dari AS.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya kehadiran militer AS di kawasan tersebut.
Trump menegaskan waktu bagi Iran untuk memilih jalur diplomasi semakin sempit.
Melalui unggahan di Truth Social pada Rabu (28/1/2026), Trump memperingatkan bahwa jika Iran menolak untuk merundingkan kesepakatan yang "adil dan merata", AS tidak akan segan melancarkan serangan yang jauh lebih destruktif dibandingkan operasi militer sebelumnya.
"Waktu hampir habis," tulis Trump, mengutip CNN.
Ia juga merujuk pada pengerahan armada tempur angkatan laut AS yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln menuju kawasan tersebut sebagai bentuk kesiapan militer.
Trump menyatakan militer AS kini dalam posisi "siap dan mampu" untuk melaksanakan misi dengan cepat dan keras jika diperlukan.
Ancaman ini merupakan kelanjutan dari sikap agresif Trump sejak ia menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir 2015 pada periode pertamanya, dan meluncurkan kampanye "tekanan maksimum".
Di sisi lain, pemerintah Iran menyatakan tidak akan gentar.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa diplomasi di bawah ancaman militer tidak akan pernah efektif.
Baca juga: Trump: Kapal Induk USS Abraham Lincoln Dekati Iran, Waktu Hampir Habis
"Jika mereka ingin negosiasi terbentuk, mereka harus menyingkirkan ancaman dan tuntutan yang tidak logis," tegas Araghchi.
Sementara itu, pihak militer Iran menyatakan bahwa pasukan mereka telah bersiaga dengan "jari di atas pelatuk".
Teheran memperingatkan setiap serangan militer dari AS akan dianggap sebagai awal peperangan.
Iran bakal membalas dengan serangan yang "belum pernah terlihat sebelumnya", yang berpotensi menyasar aset-aset strategis sekutu AS di kawasan tersebut.
Baca tanpa iklan