Analis: Iran Tak Akan Runtuh Sekalipun Serangan Amerika Berhasil Singkirkan Ali Khamenei
Pakar menilai struktur kekuasaan di Iran telah dirancang sedemikian rupa untuk tetap bertahan meskipun kehilangan figur sentral.
Penulis:
Malvyandie Haryadi
Ringkasan Berita:
- Jason Brodsky dari Atlantic Council menilai Trump cenderung menyukai operasi militer cepat, dramatis, dan tertarget, seperti serangan udara AS di Suriah pada masa jabatan pertamanya.
- Strategi pemenggalan kepemimpinan dinilai tidak akan mengubah sistem politik Iran karena struktur kekuasaan dirancang tetap bertahan meski kehilangan figur sentral.
- Brodsky menekankan Republik Islam Iran lebih besar dari satu individu, dengan lembaga dan mekanisme suksesi yang siap mengisi kekosongan kekuasaan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perang Amerika Serikat (AS) dan Iran sepertinya hanya menunggu waktu, setelah Presiden AS Donald Trump terus "memanaskan" situasi dengan kata-katanya.
Trump, terbaru, memberi sinyal kuat bahwa pasukan militer AS siap melancarkan serangan terhadap Iran.
Donald Trump berdalih langkah ini diambil menyusul tindakan keras Teheran terhadap gelombang protes nasional yang memakan korban jiwa.
Trump memperingatkan bahwa sebuah "armada besar" telah disiagakan untuk bertindak jika Iran tidak segera mengubah arah kebijakannya, sementara Teheran membalas dengan ancaman "balasan yang menghancurkan" terhadap setiap agresi.
Apa yang terjadi jika perang pecah?
Analis internasional memperingatkan bahwa konsekuensi dari serangan militer ini tidak akan sederhana, melainkan bisa memicu kekacauan regional dengan dampak global yang masif.
Jason Brodsky dari Atlantic Council menilai Trump cenderung menyukai operasi militer yang bersifat bedah saraf, namun hasilnya belum tentu membawa stabilitas.
"Presiden Trump secara historis menyukai operasi militer yang cepat, bedah (surgical), tertarget, dramatis, dan menentukan," ungkap Brodsky mengacu pada pola serangan udara AS di Suriah pada masa jabatan pertamanya.
Namun, strategi "pemenggalan" kepemimpinan ini diragukan efektivitasnya dalam mengubah sistem politik Iran secara fundamental.
Pakar menilai struktur kekuasaan di Iran telah dirancang sedemikian rupa untuk tetap bertahan meskipun kehilangan figur sentral.
"Republik Islam Iran lebih besar daripada satu individu mana pun; lembaga dan mekanisme suksesi sudah ada untuk mengisi kekosongan kekuasaan," tambah Brodsky, sembari mencatat bahwa hilangnya Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei mungkin hanya akan menyebabkan destabilisasi sementara sebelum sistem kembali "mengeras"
Analisis dari BBC turut memperingatkan bahwa intervensi militer Barat di masa lalu, seperti di Irak dan Libya, sering kali berhasil menumbangkan rezim yang dianggap Barat otoriter, namun justru menjerumuskan negara tersebut ke dalam ketidakstabilan jangka panjang.
Alih-alih transisi demokrasi yang mulus, tekanan militer dikhawatirkan justru akan memperkuat kelompok garis keras di dalam negeri Iran.
Danny Citrinowicz, mantan pejabat intelijen Israel, memperingatkan," Serangan AS kemungkinan besar akan memperkuat kohesi elit di sekitar rezim, memarginalkan pengunjuk rasa, dan memperkuat narasi Teheran tentang kepungan pihak luar."
Baca juga: Iran Bersiap Hadapi Ancaman AS, Klaim Perkuat Militer dengan 1.000 Drone Tempur
Menurut dia, jika kepemimpinan sipil-religius Iran melemah namun tidak runtuh total, kekuasaan diprediksi akan berpindah sepenuhnya ke tangan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Baca tanpa iklan