Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Rincian Terbaru Pengerahan Kapal Perusak AS dan Persiapan Iran: Washington Ajak Rapat Saudi-Israel

kapal perang AS telah ditempatkan di dekat Selat Hormuz dan Mediterania timur, dengan bala bantuan tambahan yang tiba secara bertahap.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Rincian Terbaru Pengerahan Kapal Perusak AS dan Persiapan Iran: Washington Ajak Rapat Saudi-Israel
HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni
TIBA DI DEKAT IRAN - Tangkap layar yang menunjukkan kapal Induk Amerika Serikat beserta strike group-nya berupa jet-jet tempur dari beragam jenis. USS Abraham Lincoln yang dikirim AS untuk mengancam Iran dilaporkan sudah ditempatkan di Selat Hormuz di dekat Iran. 

Rincian Terbaru Pengerahan Kapal Perusak AS dan Persiapan di Iran: Washington Ajak Rapat Saudi-Israel
 

TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah indikator politik dan militer menunjukkan kalau waktu serangan Amerika Serikat (AS) ke Iran semakin dekat.

Reuters, Kamis (29/1/2026) melaporkan kalau pemerintahan Donald Trump mengadakan pembicaraan terpisah pekan ini dengan pejabat keamanan senior dari Israel dan Arab Saudi tentang kemungkinan serangan segera ke Teheran.

Baca juga: Dibidik Rudal Iran, Ini 7 Lapis Perisai Pertahanan yang Dimiliki Kapal Induk USS Abraham Lincoln

Para analis militer meyakini, kalau agresi AS ke Iran akan memicu pergolakan di Timur Tengah yang memengaruhi stabilitas banyak negara di kawasan tersebut.

Menurut laporan tersebut, kepala intelijen Israel, Mayor Jenderal Shlomi Bender, dan menteri pertahanan Arab Saudi bertemu di Washington dengan para pejabat dari Gedung Putih dan Badan Intelijen Pusat, di tengah pertimbangan presiden mengenai opsi tindakan militer terhadap Teheran.

Baca juga: Tujuh Skenario Iran Serang Daratan AS Jika Trump Serang Teheran Duluan: Pakai Drone Lintas Benua?

KEPULAN ASAP - Tangkap layar Khaberni, Rabu (28/1/2026) yang menunjukkan kepulan asap di sebuah lokasi di Iran. Suara ledakan dilaporkan terdengar di daerah Parchin dan Pakdasht di Teheran saat situasi memanas antara Iran dan Amerika Serikat.
KEPULAN ASAP - Tangkap layar Khaberni, Rabu (28/1/2026) yang menunjukkan kepulan asap di sebuah lokasi di Iran. Suara ledakan dilaporkan terdengar di daerah Parchin dan Pakdasht di Teheran saat situasi memanas antara Iran dan Amerika Serikat. (HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni)

Intelijen Militer Israel ke Washington

Dalam laporan lain, potensi serangan AS ke Iran kini tidak lagi berputar pada pertanyaan apakah agresi akan benar-benar terjadi, namun lebih berkutat pada kapan serangan itu terjadi.

Dalam pertemuan dengan Presiden Donald Trump di Gedung Putih, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan kalau Amerika Serikat akan siap untuk melaksanakan apa pun yang diminta sang presiden. 

Rekomendasi Untuk Anda

Ia menambahkan, pernyataan Trump kalau "Iran tidak akan memiliki senjata nuklir" adalah ekspresi literal dan tegas dari sikap AS ini. 

Hegseth juga mengindikasikan kalau Teheran memiliki semua opsi yang tersedia untuk mencapai kesepakatan.

Dalam konteks yang sama, indikator serangan AS ke Iran segera terjadi datang dari laporan Channel 12 Israel yang mengutip sebuah sumber yang mengetahui informasi tersebut.

"Sumber itu mengatakan kalau kepala divisi intelijen militer Israel telah tiba di Washington untuk mengoordinasikan kemungkinan serangan terhadap Iran, dan mencatat bahwa saat ini tidak ada negosiasi diplomatik serius yang sedang berlangsung dengan Teheran," tulis laporan Khaberni, Jumat (30/1/2026).

Sumber tersebut menjelaskan kalau Israel sedang berkoordinasi dengan Washington mengenai berbagai skenario serangan terhadap Iran dan dampak yang diperkirakan akan terjadi.

Iran: Jangan Lakukan Kebodohan

Iran merespons ancaman-ancaman dengan memperingatkan agar AS dan sekutunya tidak melakukan "kebodohan". 

Juru bicara militer Iran mengatakan bahwa negaranya segera merespons jika terjadi kesalahan perhitungan atau pelaksanaan tindakan militer apa pun, dan memperingatkan konsekuensi dari apa yang ia sebut sebagai potensi kebodohan.

Sementara itu, kantor berita ISNA mengutip Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref yang mengatakan bahwa "Iran harus bersiap untuk perang," sambil menekankan bahwa Republik Islam Iran tidak memulai perang, tetapi akan membela diri dengan kuat jika perang dipaksakan kepadanya.

Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas