Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
VS
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

PBB: Sunat Perempuan Masih Menghantui 4,5 Juta Anak di Seluruh Dunia pada 2026

PBB memperingatkan 4,5 juta anak perempuan berisiko mengalami sunat perempuan pada 2026.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Suci BangunDS

“Tanpa pendanaan yang memadai dan dapat diprediksi, program penjangkauan masyarakat berisiko dikurangi, layanan garda depan melemah, dan kemajuan dapat berbalik arah."

"Hal ini berpotensi menempatkan jutaan anak perempuan dalam risiko pada saat yang krusial dalam upaya mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan untuk mengakhiri mutilasi genital perempuan pada 2030,” kata badan-badan PBB tersebut.

Kesaksian Korban Sunat Perempuan

Olivia Albert, perempuan berusia 19 tahun asal Tanzania, mengalami mutilasi genital perempuan (FGM) saat berusia 14 tahun.

Mengutip news.un.org, ia mengatakan kepada badan kesehatan seksual dan reproduksi PBB (UNFPA) bahwa ia menyembunyikan rasa sakitnya karena semua orang di sekitarnya mengatakan bahwa hal itu normal.

“Jauh di lubuk hati, saya tahu apa yang saya alami bukanlah sesuatu yang seharusnya dialami oleh gadis mana pun,” tegasnya.

Sunat perempuan sebelumnya dianggap sebagai ritual peralihan yang tak terhindarkan bagi gadis-gadis muda di wilayah Mara, Republik Persatuan Tanzania.

Namun, masyarakat setempat kini mulai berupaya menghentikan praktik tersebut.

Rekomendasi Untuk Anda

Ketika Olivia bergabung dalam dialog komunitas yang didukung badan PBB, ia mendengar para penyintas lain secara terbuka berbagi pengalaman mereka.

“Ketika para gadis mendengar dari seseorang yang telah mengalami hal ini, mereka mendengarkan dengan cara yang berbeda,” katanya.

“Mereka menemukan keberanian. Kepemimpinan para penyintas mengubah komunitas saya. Kita tidak bisa menghapus masa lalu, tetapi kita bisa memastikan gadis berikutnya tumbuh tanpa rasa takut. Bersama-sama, kita akan mewujudkannya.”

Para pemuka agama juga mengecam penafsiran yang keliru, termasuk Imam Ousmane Yabara Camara, seorang tokoh yang dikenal dan dihormati di prefektur Kindia, Guinea.

“Sunat perempuan bukanlah anjuran Islam,” katanya.

“Terlalu banyak anak perempuan menderita akibat dampak kesehatan yang buruk dari praktik ini. Kita harus mengakhirinya.”

Ia menyarankan agar topik ini dimasukkan ke dalam sistem pendidikan untuk membantu generasi mendatang hidup tanpa sunat perempuan.

Saat ini, ribuan anak mulai mempelajari isu tersebut di sekolah-sekolah yang semakin banyak mengajarkan pendidikan seks komprehensif.

Sesuai Minatmu
Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas