Sektor Energi Ukraina Diserang Rusia, Zelenskyy Jelaskan Kenapa Tak Membalas
Rusia meluncurkan serangan besar-besaran terhadap fasilitas energi Ukraina, Presiden Zelenskyy menjelaskan mengapa Ukraina tak membalasnya.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Nuryanti
Ringkasan Berita:
- Ukraina mengalami krisis energi di berbagai wilayah akibat serangan besar-besaran Rusia.
- Zelenskyy mengecam Rusia, namun Ukraina belum dapat membalas serangan tersebut karena keterbatasan senjata.
- Zelenskyy menyayangkan penyerahan persenjataan nuklir Ukraina di masa lalu kepada Rusia, setelah bubarnya Uni Soviet.
- Ukraina menganggap persenjataan Rusia, termasuk yang diwarisi dari Uni Soviet, adalah kekuatan yang tidak dimilikinya.
TRIBUNNEWS.COM - Ukraina mengalami krisis energi listrik akibat serangan besar-besaran yang diluncurkan Rusia terhadap fasilitas energi di berbagai wilayah.
Ibu kotanya, Kyiv, menjadi salah satu target serangan tersebut, selain Kharkiv, kota terbesar kedua setelahnya.
Kyiv, yang dihuni sekitar 2,6 juta saat ini, mengalami krisis pasokan listrik setelah fasilitas energinya dihantam serangan besar Rusia pada Sabtu (7/2/2026), hingga membutuhkan pembangkit listrik tambahan.
"Kami sedang berupaya mencari solusi komprehensif, khususnya dalam hal peluncuran kapasitas pembangkitan tambahan," kata Menteri Energi Ukraina Denys Shmyhal, Minggu (8/2/2026).
Ukraina telah menerapkan pemadaman listrik bergilir di semua wilayahnya sejak dimulainya invasi Rusia pada 24 Februari 2022.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berulang kali menyerukan kepada masyarakat internasional untuk menekan Rusia yang melanjutkan serangan terhadap fasilitas energi di negaranya.
Menanggapi serangan bertubi-tubi yang diluncurkan Rusia, Zelenskyy menyatakan sektor energi Rusia adalah target yang sah, tetapi Ukraina belum mampu membalas serangan Rusia dengan kekuatan yang setara.
" Kita tidak perlu memilih – apakah kita menyerang target militer atau fasilitas energi . Dia (Rusia) menjual energi ini. Dia menjual minyak. Jadi, apakah itu fasilitas energi , atau target militer? Sejujurnya, itu sama saja. Dia menjual minyak, mengambil uangnya, menginvestasikannya dalam senjata. Dan dengan senjata-senjata itu, dia membunuh orang Ukraina," kata Zelenskyy berbicara dengan staf pengajar dan mahasiswa di Institut Penerbangan Kyiv, Minggu.
Presiden Ukraina menjelaskan, negaranya dapat membalas serangan terhadap fasilitas energi Rusia jika mereka memiliki cukup kemampuan untuk melakukannya.
"Lalu apa yang seharusnya dilakukan oleh warga Ukraina? Ada dua cara. Kita bisa membangun senjata untuk menyerang senjata mereka, atau kita menyerang sumber di mana uang mereka dihasilkan dan dilipatgandakan. Dan sumber itu adalah sektor energi mereka. Itulah yang sedang terjadi. Semua ini adalah target yang sah bagi kita," jelasnya.
Baca juga: Zelenskyy: Ukraina Akan Buka 10 Pusat Ekspor Senjata di Eropa
"Dan siapa lagi yang bisa melakukan ini kepada Rusia sebelum kita? Tidak ada seorang pun," tambahnya.
Zelenskyy mengatakan, pasukan Rusia menyerang sektor energi Ukraina dalam upaya untuk menghancurkan masyarakatnya.
"Ini adalah tugas perang hibrida – memecah belah masyarakat dan melemahkannya, menghancurkannya. Jika Anda menghancurkan warga sipil, militer akan runtuh, setidaknya risikonya tinggi. Itulah yang dilakukan musuh," kata Zelenskyy.
Menurutnya, Ukraina tidak mampu membalas dengan skala yang sama seperti serangan Rusia.
"Jadi apa yang dilakukan Ukraina? Ketika mereka menyerang sistem energi kita, kita menyerang sistem mereka. Mereka tidak bisa hidup dengan listrik, dalam kenyamanan dan ketenangan, sementara kita kedinginan dan, terus terang, hanya mengalami kerugian. Mereka mendapat balasan. Apakah kita membalas dalam skala yang sama? Tidak, (karena) kita tidak memiliki sumber daya seperti yang mereka miliki," jelasnya.
Zelenskyy mengatakan, teknologi dan kapasitas produksi yang dikumpulkan oleh Rusia sebagian merupakan warisan dari seluruh Uni Soviet.
Ia juga mengingatkan kembali pilihan Ukraina untuk melepaskan persenjataan nuklirnya yang diwarisi dari Uni Soviet kepada Rusia selama 1994–1996, sebagai bagian dari proses denuklirisasi yang diputuskan setelah kemerdekaan negara itu.
"Pengetahuan, teknologi, dan perusahaan yang mereka miliki merupakan perjalanan panjang yang telah ditempuh seluruh Uni Soviet, termasuk Ukraina dan Ukraina dalam segala keberagamannya. Ukraina patriotik dan ada banyak pengkhianat," katanya, seperti diberitakan Pravda.
Presiden Ukraina menyayangkan penyerahan senjata nuklirnya terhadap Rusia, yang menurutnya dapat menjadi salah satu jaminan keamanan negaranya.
"Hal yang sama terjadi dengan teknologi yang diwariskan. Tidak hanya pesawat yang dipotong-potong, tetapi teknologi dan senjata juga diserahkan dan sebagainya. Kolchuga diberikan, semuanya dijual dan senjata nuklir diserahkan. Apakah kita mendukung perang nuklir? Tidak. Tetapi negara nuklir mana yang saat ini berada di bawah pendudukan? Tidak ada. Itulah intinya," katanya.
Meski telah melepas persenjataan nuklirnya di masa lalu, Zelenskyy menegaskan negaranya tetap harus berkembang.
"Apakah kita harus membalas dengan cara yang sama? Kita harus. Tetapi apakah kita memiliki skala yang sama dengan Rusia? Tidak – mereka mewarisi semuanya dari zaman Soviet. Kita tidak memiliki itu, namun kita terus berkembang. Dan kita berkembang secara eksponensial," tambah Zelenskyy.
Sejak 14 Januari 2026, atas instruksi Zelensky, Ukraina memberlakukan keadaan darurat di sektor energi di tengah serangan Rusia dan memburuknya kondisi cuaca pada musim dingin.
Pada malam tanggal 7 Februari, tentara Rusia melancarkan serangan besar-besaran lainnya ke Ukraina, menggunakan drone serang, rudal udara, darat, dan laut, yang menghantam total 447 target udara.
Target utama serangan itu adalah fasilitas energi dan infrastruktur penting di wilayah Lviv, Ivano-Frankivsk, Rivne, dan Vinnytsia. Pasukan pertahanan udara berhasil menetralisir 24 rudal dan 382 drone.
Perang Rusia-Ukraina
Perang Rusia–Ukraina pecah pada 24 Februari 2022 saat Rusia melancarkan invasi militer besar-besaran ke wilayah Ukraina. Serangan ini menjadi puncak dari ketegangan panjang yang dipicu persaingan politik, keamanan, dan geopolitik di Eropa Timur.
Akar konflik bermula sejak runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an, ketika Ukraina dan Rusia berkembang dengan orientasi kebijakan yang kian berlawanan.
Ukraina kemudian mempererat hubungan dengan Barat, termasuk Uni Eropa dan Amerika Serikat, serta menyatakan keinginan bergabung dengan NATO.
Langkah tersebut dipandang Rusia sebagai ancaman langsung terhadap kepentingan dan keamanan nasionalnya.
Ketegangan memuncak pada 2014 dengan pencaplokan Krimea oleh Rusia dan pecahnya konflik bersenjata di wilayah Donbas.
Meski berbagai upaya diplomasi telah dilakukan, konflik terus bereskalasi hingga invasi penuh Rusia pada 2022.
Perang ini memicu kecaman internasional, sanksi besar terhadap Rusia, serta dukungan militer dan finansial Barat kepada Ukraina, dan hingga kini masih berlangsung.
Amerika Serikat, yang kini dipimpin Donald Trump, berupaya menengahi perundingan antara Rusia dan Ukraina, serta mendesak kedua pihak untuk mengakhiri perang pada musim panas bulan Juni tahun ini, lapor The Guardian.
Namun, seperti desakan yang pernah dilontarkan Trump pada Agustus tahun lalu, Rusia dan Ukraina belum menunjukkan langkah menuju kesepakatan tersebut.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.