Demam Takaichi di Kalangan Anak Muda, Benarkah Jepang Kini Lebih Cerah?
Takaichi Fever merebak di kalangan anak muda Jepang. Gaya santai dan budaya pop menarik Gen Z, meski kritik soal minimnya pemahaman kebijakan muncul
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Dukungan generasi muda terhadap PM Jepang Sanae Takaichi meningkat dalam pemilu parlemen terbaru, fenomena yang dijuluki media sebagai “Takaichi Fever”
- Gaya komunikasi personal, kedekatan dengan budaya pop, dan citra pemimpin perempuan pertama membuatnya menarik bagi Gen Z dan milenial
- Namun, pengamat mengingatkan dukungan ini lebih berbasis citra ketimbang pemahaman kebijakan.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO — Dukungan generasi muda terhadap Perdana Menteri Sanae Takaichi tengah menjadi sorotan.
Fenomena yang dijuluki media Jepang sebagai “Takaichi Fever” terlihat jelas dalam kampanye pemilu parlemen (Shūgiin) terbaru, di mana semakin banyak pemilih muda hadir di lokasi pidato dan menyatakan ketertarikan mereka pada sosok perdana menteri perempuan pertama Jepang tersebut.
Meski Takaichi kerap menuai kontroversi akibat sejumlah pernyataan blunder dan belum memiliki capaian kebijakan besar yang diakui luas, popularitasnya justru meningkat di kalangan generasi Z dan milenial.
Dalam pemilu anggota parlemen yang dimenangkan telak oleh Partai Demokrat Liberal (LDP), para jurnalis termasuk Tribunnews.com juga menyusuri lokasi kampanye dan tempat pemungutan suara untuk mendengar langsung suara anak muda.
Citra “Lebih Dekat” dan Tidak Kaku
Pidato perdana kampanye pada 27 Januari di Akihabara, Tokyo—kawasan yang identik dengan budaya pop dan subkultur—menjadi titik awal gelombang dukungan tersebut.
Dalam pidatonya, Tribunnews.com melihat Takaichi membagikan kisah ringan soal mewarnai rambut sendiri di rumah sambil mengaitkannya dengan isu kesiapsiagaan bencana dan strategi pertumbuhan melalui investasi manajemen krisis.
Baca juga: Mantan Gubernur BOJ Kuroda Haruhiko Peringatkan Kebijakan Ekonomi PM Jepang Takaichi
Sejumlah mahasiswa mengaku menemukan sisi baru dari Partai Demokrat Liberal yang selama ini dicap “kaku dan berwajah tua”.
“Saya merasa citra partai berubah sejak dipimpin Takaichi. Sebagai perdana menteri perempuan, ada harapan akan sesuatu yang berbeda,” ujar seorang mahasiswa berusia 19 tahun di lokasi kampanye.
Bagi sebagian anak muda, gaya bertutur yang personal dan penuh cerita keseharian membuat pidato Takaichi terasa lebih dekat. Media sosial juga berperan besar. Video dan unggahan Takaichi di X (Twitter) dan Instagram kerap muncul di lini masa generasi muda, memperkuat kesan akrab.
Budaya Pop dan Diplomasi Jadi Daya Tarik
Popularitas Takayuki turut terdongkrak oleh citra dirinya yang lekat dengan budaya populer.
Aksi bernyanyi lagu band rock ternama Jepang, B’z, hingga pengakuannya sebagai penggemar klub bisbol Hanshin Tigers, menarik perhatian bahkan pemilih di bawah usia memilih.
Di panggung internasional, gaya diplomasi Takaichi juga dinilai atraktif.
Dalam rangkaian “pekan diplomasi” Januari lalu, ia tampil memainkan drum bersama Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung, serta bernyanyi untuk merayakan ulang tahun Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni.
Bagi sebagian pemilih muda, aksi-aksi ini menunjukkan kemampuan komunikasi lintas budaya dan citra pemimpin yang “tidak mudah diremehkan”.
Baca tanpa iklan