Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Demam Takaichi di Kalangan Anak Muda, Benarkah Jepang Kini Lebih Cerah?

Takaichi Fever merebak di kalangan anak muda Jepang. Gaya santai dan budaya pop menarik Gen Z, meski kritik soal minimnya pemahaman kebijakan muncul

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Demam Takaichi di Kalangan Anak Muda, Benarkah Jepang Kini Lebih Cerah?
Tribunnews.com/Richard Susilo
TAKAICHI FEVER - PM Jepang Sanae Takaichi menunjuk pemenang pemilu dari Partai Demokrat Liberal (LDP) yang dipimpinnya pagi ini (9/2/2026). (Richard Susilo) 

Popularitas Takaichi bahkan dimanfaatkan kandidat LDP lain. Di daerah pemilihan Kanagawa, kehadirannya dalam kampanye disebut mampu mengangkat elektabilitas kandidat yang sebelumnya diprediksi kesulitan.

Namun, di balik euforia tersebut, muncul kritik bahwa dukungan anak muda cenderung berbasis citra, bukan pemahaman kebijakan. 

Dalam wawancara dengan pemilih muda, hampir tidak ada yang menyebut secara spesifik kebijakan utama Takaichi  seperti “kebijakan fiskal ekspansif yang bertanggung jawab” atau investasi manajemen krisis.

Sejumlah pemilih mengaitkan perbaikan ekonomi pribadi—seperti turunnya harga bahan bakar—sebagai keberhasilan langsung Takaichi. 

Padahal, kebijakan penghapusan pajak sementara bahan bakar tersebut merupakan hasil kompromi politik lintas partai yang telah lama dibahas, bukan semata inisiatif pemerintahan Takaichi.

Peringatan dari Pengamat

Aktivis pendidikan demokrasi Momoko Nojo dari gerakan No Youth No Japan menilai fenomena ini sebagai tanda lemahnya pendidikan demokrasi. 

Rekomendasi Untuk Anda

Menurutnya, banyak pemilih muda mendukung Takaichi karena simbol pembaruan dan gaya komunikasi, bukan karena kesesuaian pandangan kebijakan atau ideologi. 

“Ketika dijelaskan bahwa Takaichi  menentang isu seperti pernikahan sesama jenis, banyak anak muda justru terkejut,” ujarnya.

Nojo menilai dukungan yang bersifat emosional dan naratif ini mudah berubah.

“Jika muncul figur lain dengan cerita yang lebih kuat, dukungan bisa bergeser dengan cepat,” katanya.

Apakah “Demam Takaichi” akan bertahan dan benar-benar membawa perubahan substansial bagi Jepang, atau sekadar gelombang sesaat yang dipicu citra dan media sosial, masih menjadi pertanyaan besar pascapemilu.

Diskusi  anak muda   di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas