Krisis Bahan Bakar di Kuba karena Tekanan AS, Ini 5 Hal yang Perlu Diketahui
Kuba mengalami krisis bahan bakar akibat sanksi Amerika Serikat yang memutus pasokan minyak dari Venezuela dan menekan pemasok lain.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Endra Kurniawan
Pada Kamis (29/1/2026), Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif tambahan terhadap negara-negara yang memasok minyak ke Kuba.
Pernyataan Gedung Putih menyebut pemerintah Kuba sebagai ancaman yang tidak biasa dan luar biasa terhadap keamanan nasional dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Usulan pengenaan bea masuk ini bukan tanpa alasan.
AS menuduh pemerintah Kuba bersekutu dengan sejumlah negara yang dianggap sebagai musuh, termasuk Rusia, China, Iran, Hamas, dan Hizbullah.
Pada Januari lalu, laporan Wall Street Journal menyebut pemerintah AS berupaya melakukan perubahan rezim di Kuba untuk menggulingkan pemerintahan komunisnya, mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya.
Menciptakan blokade total impor minyak ke Kuba merupakan salah satu kemungkinan strategi tersebut, lapor Politico.
Laporan WSJ juga menyatakan bahwa penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro menjadi peringatan bagi Kuba.
Siapa yang Akan Terdampak oleh Tarif Tersebut?
Jika diberlakukan, tarif ini terutama akan menargetkan Meksiko, Rusia, dan Aljazair, tiga dari empat negara pemasok utama minyak Kuba.
Meksiko memasok 44 persen impor minyak Kuba, Rusia sekitar 10 persen, dan Aljazair dalam jumlah lebih kecil, menurut data Financial Times.
Sebelum penangkapan Maduro, Venezuela memasok sekitar 33 persen impor minyak Kuba.
Namun, pasokan tersebut terhenti setelah penculikan tersebut.
Pada 11 Januari, Trump menulis:
“TIDAK AKAN ADA LAGI MINYAK ATAU UANG YANG MASUK KE KUBA – NOL! Saya sangat menyarankan mereka membuat kesepakatan sebelum TERLAMBAT.”
Setelah itu, Kuba sepenuhnya bergantung pada Meksiko untuk pasokan minyaknya.