Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Di Tengah Perundingan, Iran Blak-blakan Tak Percaya AS: Ancaman Perang Menguat?

Iran lanjutkan negosiasi nuklir tanpa percaya AS, sementara Washington tambah tekanan dan pertimbangkan opsi serangan jika diplomasi gagal.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Ringkasan Berita:
  • Teheran tetap mengikuti perundingan nuklir dengan sikap waspada, memperkuat militer, dan menolak negosiasi di bawah tekanan atau ancaman.
  • Petinggi militer menegaskan siap memberi respons keras jika terjadi kesalahan perhitungan dari pihak lawan, sebagai upaya memperkuat posisi tawar.
  • Washington mempertimbangkan penambahan kapal induk dan membuka opsi serangan jika negosiasi gagal, membuat ketegangan tetap tinggi meski dialog masih berlangsung.

TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Iran secara terbuka menyatakan belum sepenuhnya mempercayai Amerika Serikat (AS), meski kedua negara kembali melanjutkan perundingan nuklir.

Pernyataan ini diungkap langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi  pada Selasa (10/2/2026) waktu setempat.

Dalam keterangan resmi yang dikutip media lokal Iranintl, Araghchi menegaskan bahwa Teheran akan tetap menempuh jalur diplomatik, namun dengan sikap waspada dan tanpa bergantung pada kepercayaan terhadap pihak lain.

“Kami akan menempuh jalan ini dengan mata terbuka, mempertimbangkan pengalaman masa lalu, tanpa mempercayai pihak lain, dan dengan keyakinan pada angkatan bersenjata,” ujar Araghchi dalam pertemuan dengan para komandan angkatan darat Iran.

Pernyataan Araghchi mencerminkan strategi ganda Iran yakni melanjutkan negosiasi nuklir sambil memperkuat pertahanan nasional.

Pemerintah Iran menilai pengalaman perjanjian sebelumnya, termasuk penarikan sepihak AS dari kesepakatan nuklir 2015, menjadi alasan utama sikap tidak percaya tersebut.

Panglima Angkatan Darat Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami, bahkan memperingatkan bahwa setiap kesalahan perhitungan dari pihak lawan akan berujung pada respons yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Rekomendasi Untuk Anda

“Jika musuh melakukan kesalahan, mereka akan menerima balasan yang belum pernah mereka lihat,” kata Hatami.

Pernyataan keras ini menegaskan bahwa Iran ingin menunjukkan posisi tawar yang kuat di meja perundingan.

Iran Tolak Negosiasi di Bawah Ancaman

Komandan Angkatan Udara Iran, Brigadir Jenderal Bahman Behmard, menambahkan bahwa negaranya tidak akan menerima dialog yang dilakukan di bawah tekanan militer atau politik.

Baca juga: Netanyahu dan Trump Akan Bertemu di Tengah Kritik Terhadap Israel, Bahas Gaza hingga Rudal Iran

Menurutnya, Iran tetap mendukung diplomasi demi stabilitas regional dan global, namun tidak akan mengorbankan keamanan nasional.

Ia juga mengungkapkan bahwa doktrin pertahanan Iran telah mengalami penyesuaian, dari sekadar pertahanan reaktif menuju strategi pencegahan aktif yang memungkinkan respons lebih cepat dan tegas terhadap ancaman.

Langkah ini disebut sebagai bentuk dukungan militer terhadap upaya diplomasi, dengan prinsip utama: tidak ada dialog di bawah bayang-bayang ancaman.

Sementara itu menyusul pernyataan keras petinggi Iran lainnya, Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran dalam pernyataan resminya menegaskan kesiapan menghadapi setiap bentuk ancaman, konspirasi, maupun tuntutan yang dianggap berlebihan.

Ia menegaskan bahwa Iran akan berdiri teguh dan merespons setiap tekanan dengan kekuatan yang lebih besar dan luas jika diperlukan.

Pemerintah juga menyerukan partisipasi publik dalam peringatan Revolusi Islam 1979, sebagai bentuk solidaritas nasional di tengah meningkatnya tekanan internasional.

AS Pertimbangkan Tambah Kapal Induk

Adapun ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menambah tekanan militer di kawasan Timur Tengah.

Dengan membuka pengiriman tambahan kekuatan militer di tengah berlangsungnya perundingan nuklir kedua negara.

Dalam pernyataannya kepada Axios, Trump mengatakan bahwa pemerintahannya sedang mempertimbangkan pengiriman satu kelompok kapal induk tambahan untuk memperkuat kehadiran militer AS di sekitar Iran.

Kapal tersebut direncanakan akan bergabung dengan USS Abraham Lincoln yang telah bersiaga di kawasan sejak Januari.

“Kami memiliki armada yang sedang menuju ke sana dan satu lagi mungkin akan menyusul,” kata Trump.

Seorang pejabat AS juga mengonfirmasi bahwa pembahasan terkait pengiriman kapal induk kedua memang sedang berlangsung sebagai bagian dari opsi strategis Washington.

Trump menegaskan bahwa opsi serangan militer tetap terbuka apabila negosiasi nuklir dengan Iran tidak menghasilkan kesepakatan. 

Meski demikian, ia menyatakan optimistis bahwa Iran kali ini menunjukkan keseriusan lebih besar dalam proses diplomasi.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah putaran pertama perundingan nuklir Iran-AS digelar di Oman pada 6 Februari lalu. Menurut Trump, putaran kedua negosiasi dijadwalkan berlangsung pekan depan.

Ia menilai pendekatan Teheran saat ini berbeda dibandingkan sebelumnya, terutama setelah meningkatnya ketegangan militer pada pertengahan 2025, termasuk serangan terhadap fasilitas nuklir Iran di tengah konflik dengan Israel.

“Pembicaraan kali ini sangat berbeda,” ujar Trump.

Situasi terbaru menunjukkan hubungan Iran dan AS masih berada dalam fase sensitif. 

Kedua negara sama-sama membuka ruang dialog, namun di saat yang sama memperkuat posisi militer masing-masing sebagai langkah antisipasi.

Bagi Iran, sikap tidak percaya terhadap AS menjadi bagian dari strategi politik sekaligus pesan kepada publik domestik bahwa pemerintah tidak akan mudah memberikan konsesi.

Sementara itu, bagi Washington, peningkatan kehadiran militer dipandang sebagai alat tekanan agar Iran lebih fleksibel dalam perundingan.

Kondisi ini menciptakan dinamika diplomasi bertekanan tinggi. Keberhasilan negosiasi sangat bergantung pada kemampuan kedua pihak menyeimbangkan kepentingan keamanan nasional dengan upaya menjaga stabilitas kawasan.

Jika perundingan berhasil, ketegangan di Timur Tengah berpotensi mereda. Namun jika gagal, risiko eskalasi militer di kawasan tersebut masih terbuka.

(Tribunnews.com / Namira)

Sesuai Minatmu
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas