Organisasi Pangan dan Pertanian PBB Ungkap Distorsi Sistem Pangan Pakistan
Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mengungkap adanya distorsi struktural mendalam dalam sistem pangan Pakistan.
Editor:
Wahyu Aji
Ringkasan Berita:
- Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menemukan sistem pangan Pakistan mengalami distorsi struktural.
- Sementara makanan bergizi seperti buah, sayur, kacang-kacangan, dan protein hewani masih kurang, sehingga banyak warga kekurangan nutrisi.
- Pola makan tidak seimbang memicu beban ganda malnutrisi dan obesitas.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mengungkap adanya distorsi struktural mendalam dalam sistem pangan Pakistan.
Dikutip dari Business Recorder, Rabu (18/2/2026), analisis yang dipresentasikan FAO pada 10 Februari lalu dalam lokakarya tentang sistem pangan Pakistan menyimpulkan kondisi yang mengkhawatirkan.
FAO menilai Pakistan pada dasarnya memproduksi energi, bukan nutrisi, sehingga jutaan orang tetap rentan terhadap kekurangan gizi, pertumbuhan terhambat, serta penyakit terkait pola makan.
Temuan utama menyoroti ketidakseimbangan akut dalam sistem pangan, di mana sereal, gula, dan minyak nabati diproduksi dan dikonsumsi jauh melebihi kebutuhan diet sehat.
Sementara itu, pasokan dan konsumsi makanan padat nutrisi seperti buah-buahan, kacang-kacangan, dan polong-polongan belum memadai.
Pola makan yang didominasi sereal di wilayah perkotaan maupun pedesaan, dinilai mengurangi keragaman diet dan membatasi pilihan nutrisi masyarakat.
Susu dan produk olahannya menjadi kelompok makanan kedua yang paling banyak dikonsumsi secara nasional.
Namun, konsumsi sayuran masih tergolong moderat, sementara konsumsi buah tetap rendah secara konsisten, terutama di pedesaan, yang menunjukkan adanya kekurangan mikronutrien penting.
Sumber Protein Lain
Sumber protein selain susu juga sangat terbatas. Konsumsi daging, unggas, dan telur relatif jarang, khususnya di masyarakat pedesaan.
Kacang-kacangan memberikan tambahan protein, tetapi tidak cukup untuk menutup kekurangan nutrisi dari sumber protein hewani, sehingga pola makan masyarakat secara kronis kekurangan zat gizi penting.
Temuan lain yang menjadi perhatian adalah meningkatnya konsumsi permen dan makanan ringan.
Masyarakat pedesaan dilaporkan mengonsumsi lebih banyak gula dan lemak dibanding masyarakat perkotaan, sebagian karena harga makanan padat energi seperti gula dan lemak relatif lebih terjangkau.
Penjualan makanan olahan di Pakistan juga hampir berlipat ganda dalam beberapa tahun terakhir.
Ketergantungan yang meningkat pada produk murah yang tinggi kalori dan gula, serta lonjakan konsumsi makanan olahan, menunjukkan perubahan cepat pola makan masyarakat ke arah yang kurang sehat.
Baca tanpa iklan