Iran Klaim Ada Sinyal Menggembirakan dari AS Jelang Pembicaraan Nuklir di Jenewa
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat menunjukkan “sinyal menggembirakan”.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Tiara Shelavie
Ringkasan Berita:
- Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat menunjukkan “sinyal menggembirakan”.
- Kendati demikian, Teheran tetap berhati-hati menjelang negosiasi lanjutan di Jenewa, Swiss.
- Sementara itu, Donald Trump meningkatkan tekanan dengan ancaman konsekuensi jika kesepakatan nuklir tidak tercapai
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat memberikan “sinyal yang menggembirakan”.
Namun, Teheran tetap bersikap hati-hati menjelang putaran negosiasi berikutnya yang akan digelar di Jenewa, Swiss.
Melansir laporan dari Al Jazeera, pernyataan optimisme yang hati-hati ini muncul di tengah ketegangan tinggi di kawasan Teluk.
Presiden Donald Trump sebelumnya telah memberikan peringatan keras akan adanya "konsekuensi buruk" jika kesepakatan mengenai program nuklir Teheran tidak segera tercapai.
Progres Diplomatik dan Peran Oman
Menteri Luar Negeri Oman, Badr Al Busaidi, yang bertindak sebagai mediator utama, mengonfirmasi jadwal pertemuan tersebut.
Dikutip dari keterangan Al Busaidi, negosiasi ini merupakan upaya positif untuk melangkah lebih jauh menuju penyelesaian kesepakatan yang telah buntu selama bertahun-tahun.
"Negosiasi terbaru melibatkan pertukaran proposal praktis dan menghasilkan sinyal yang menggembirakan. Namun, kami terus memantau tindakan AS dengan cermat," tulis Pezeshkian melalui akun resminya di platform X, sebagaimana dilansir oleh Associated Press.
Martabat Bangsa dan Hak Pengayaan Uranium
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa meskipun solusi diplomatik sangat mungkin dicapai, Iran tidak akan menyerah pada tekanan militer.
Dalam wawancara dengan CBS, Araghchi menyebut program nuklir sebagai masalah "martabat dan kebanggaan" rakyat Iran.
"Kami telah mengembangkan teknologi ini sendiri melalui ilmuwan kami. Kami tidak akan menghentikan program nuklir kami selama semuanya tetap damai dan di bawah pengawasan IAEA," tegas Araghchi.
Ia juga menekankan bahwa berdasarkan Perjanjian Non-Proliferasi (NPT), Teheran memiliki hak penuh untuk menikmati energi nuklir damai, termasuk pengayaan uranium.
Baca juga: Jenderal AS: Waspada, Perang dengan Iran Jauh Lebih Sulit dan Berbahaya Ketimbang Operasi Venezuela!
Tekanan Militer dan Skala Kekuatan AS
Di sisi lain, Washington terus meningkatkan tekanan melalui pengerahan kekuatan militer.
Mengutip data media AS, kekuatan udara yang dikumpulkan di Timur Tengah saat ini merupakan yang terbesar sejak invasi Irak tahun 2003.
Amerika Serikat telah mengerahkan lebih dari 120 pesawat tempur dan mengirim kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R Ford, untuk bergabung dengan gugus tugas USS Abraham Lincoln di Laut Arab.
Baca tanpa iklan