Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Iran Klaim Ada Sinyal Menggembirakan dari AS Jelang Pembicaraan Nuklir di Jenewa

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat menunjukkan “sinyal menggembirakan”.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan

Ringkasan Berita:
  • Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat menunjukkan “sinyal menggembirakan”.
  • Kendati demikian, Teheran tetap berhati-hati menjelang negosiasi lanjutan di Jenewa, Swiss.
  • Sementara itu, Donald Trump meningkatkan tekanan dengan ancaman konsekuensi jika kesepakatan nuklir tidak tercapai

 

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat memberikan “sinyal yang menggembirakan”.

Namun, Teheran tetap bersikap hati-hati menjelang putaran negosiasi berikutnya yang akan digelar di Jenewa, Swiss.

Melansir laporan dari Al Jazeera, pernyataan optimisme yang hati-hati ini muncul di tengah ketegangan tinggi di kawasan Teluk.

Presiden Donald Trump sebelumnya telah memberikan peringatan keras akan adanya "konsekuensi buruk" jika kesepakatan mengenai program nuklir Teheran tidak segera tercapai.

Progres Diplomatik dan Peran Oman

Menteri Luar Negeri Oman, Badr Al Busaidi, yang bertindak sebagai mediator utama, mengonfirmasi jadwal pertemuan tersebut.

Rekomendasi Untuk Anda

Dikutip dari keterangan Al Busaidi, negosiasi ini merupakan upaya positif untuk melangkah lebih jauh menuju penyelesaian kesepakatan yang telah buntu selama bertahun-tahun.

"Negosiasi terbaru melibatkan pertukaran proposal praktis dan menghasilkan sinyal yang menggembirakan. Namun, kami terus memantau tindakan AS dengan cermat," tulis Pezeshkian melalui akun resminya di platform X, sebagaimana dilansir oleh Associated Press.

Martabat Bangsa dan Hak Pengayaan Uranium

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa meskipun solusi diplomatik sangat mungkin dicapai, Iran tidak akan menyerah pada tekanan militer.

Dalam wawancara dengan CBS, Araghchi menyebut program nuklir sebagai masalah "martabat dan kebanggaan" rakyat Iran.

"Kami telah mengembangkan teknologi ini sendiri melalui ilmuwan kami. Kami tidak akan menghentikan program nuklir kami selama semuanya tetap damai dan di bawah pengawasan IAEA," tegas Araghchi.

Ia juga menekankan bahwa berdasarkan Perjanjian Non-Proliferasi (NPT), Teheran memiliki hak penuh untuk menikmati energi nuklir damai, termasuk pengayaan uranium.

Baca juga: Jenderal AS: Waspada, Perang dengan Iran Jauh Lebih Sulit dan Berbahaya Ketimbang Operasi Venezuela!

Tekanan Militer dan Skala Kekuatan AS

Di sisi lain, Washington terus meningkatkan tekanan melalui pengerahan kekuatan militer.

Mengutip data media AS, kekuatan udara yang dikumpulkan di Timur Tengah saat ini merupakan yang terbesar sejak invasi Irak tahun 2003.

Amerika Serikat telah mengerahkan lebih dari 120 pesawat tempur dan mengirim kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R Ford, untuk bergabung dengan gugus tugas USS Abraham Lincoln di Laut Arab.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas