Rencana Trump Bisa Gagal Total di Iran Meski Khamenei Dilenyapkan
Misi Amerika Serikat dan Israel tak hanya melumpuhkan fasilitas nuklir Iran, tapi juga meruntuhkan rezim berkuasa.
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, rupanya sama sekali tak menyurutkan perlawanan
- Hingga kini militer Iran terus melancarkan serangan balasan ke beberapa wilayah di Timur Tengah menyasar fasilitas militer AS, termasuk Israel.
- Pakar menyebut tidak ada jaminan serangan udara AS dan Israel akan berujung pada kejatuhan rezim.
TRIBUNNEWS.COM - Serangan udara Amerika Serikat dan Israel terus menggempur titik-titik strategis Iran.
Tujuannya bukan hanya melumpuhkan fasilitas nuklir Iran, tapi juga meruntuhkan rezim berkuasa.
Namun, kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, rupanya sama sekali tak menyurutkan perlawanan.
Hingga kini militer Iran terus melancarkan serangan balasan ke beberapa wilayah di Timur Tengah menyasar fasilitas militer AS, termasuk Israel. Sejumlah tentara AS dilaporkan tewas.
Komando Pusat AS (CENTCOM) melalui platform X melaporkan per 2 Maret, empat personel militer AS kehilangan nyawa dalam pertempuran.
Baca juga: Tahu Jadi Target Pembunuhan, Cara Khamenei Siapkan Kematiannya Agar Rezim Tetap Eksis
Data sejarah empat dekade terakhir menunjukkan bahwa "menghujani" sebuah negara dengan rudal dan gempuran jet tempur, tidak pernah cukup untuk menggulingkan kekuasaan.
Tanpa adanya intervensi darat yang masif, kekuasaan Iran diprediksi akan tetap kokoh berdiri.
Michael McFaul, Profesor dari Universitas Stanford sekaligus mantan Duta Besar AS untuk Rusia seperti dikutip CNBC, memberi peringatan keras.
Ia menegaskan bahwa tidak ada jaminan serangan udara AS dan Israel akan berujung pada kejatuhan rezim.
"Secara historis, kampanye serangan udara tidak pernah memicu penggulingan rezim. Saya tidak bisa memikirkan satu pun kasus yang berhasil, bahkan intervensi militer dengan pasukan darat pun sering kali gagal," ujar McFaul.
Serangan udara saat ini, menurut McFaul, hanya menyasar sistem persenjataan Iran yang mengancam AS dan sekutunya.
"Kita tidak menghancurkan instrumen militer dan senjata yang digunakan rezim untuk menekan rakyat Iran sendiri. Jadi, sangat tidak jelas bagaimana kampanye militer ini bisa mewujudkan janji Presiden Trump untuk mengubah rezim," tambahnya.
Apalagi situasinya saat ini makin kacau. Eskalasi meningkat.
Proksi Iran di Yaman, Irak, hingga Lebanon, juga bergerak dan melancarkan serangan besar-besaran yang diarahkan ke Israel dan AS.
Baca tanpa iklan