Dua Peraih Nobel Jepang Berbeda Pandangan soal AI
Dua peraih Nobel Jepang 2025 beda pandangan soal AI, namun sepakat riset dasar butuh waktu panjang dan dukungan berkelanjutan
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Dua peraih Nobel Jepang 2025, Susumu Kitagawa dan Shimon Sakaguchi, menyoroti peran AI dalam riset
- Sakaguchi menilai AI hanya membantu merangkum data dan berpotensi menimbulkan ketergantungan, sementara kreativitas tetap kunci utama
- Keduanya menegaskan riset dasar butuh dukungan jangka panjang 10–20 tahun serta pendanaan berkelanjutan demi masa depan sains Jepang
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Dua Profesor Jepang, dan keduanya peraih hadiah Nobel, Susumu Kitagawa dan Shimon Sakaguchi ternyata berbeda jauh mengenai AI atau penggunaan ChatGPT dan semacamnya.
"Saya lebih suka pakai kertas, membaca menulis, cara konvensional ketimbang pakai AI," papar Sakaguchi khusus kepada Tribunnews.com kemarin (4/3/2026).
Diakuinya pula memang AI banyak sekali membantu masyarakat. Tetapi AI lebih kepada pengumpulan dan merangkum data saja.
"Sedangkan yang jauh lebih penting adalah ide kreatif dari mahasiswa itu sendiri, bagaimana dia bisa menggalinya dengan lebih jauh," tambahnya.
AI diaggak Sakaguchi layaknya seperti menggunakan ponsel.
"Orang sudah ketagihan pakai ponsel karena nyaman bahkan bisa jadi toxic bagi kehidupannya," paparnya yang mengartikan ketergantungan manusia sudah menjadi sangat besar sekali kepada ponsel, seolah tak ada ponsel bisa mati kehidupannya.
Baca juga: Dorong Peran AI di Asia Tenggara, Founder Advance Intelligence Group Gabung ke Endeavor Entrepreneur
Sedangkan Kitagawa mengakui mengakui AI hanya sebagai pengumpulan data dan merangkum data saja tidak lebih dari itu.
Dua Peraih Nobel Jepang Desak Dukungan Jangka Panjang untuk Riset Dasar
"Terpenting adalah meningkatkan jam waktu kerjanya di bidang penelitian, meningkatkan ide kreativitas sendiri mencari hal-hal yang baru bagi para peneliti muda saat ini," papar Kitagawa kepada Tribunnews.com
Setelah itu dengan mudah dirangkai oleh AI dan semakin banyak dengan cepat hasil penelitian bisa diungkapkan berkat bantuan AI.
Kitagawa, profesor khusus dari Universitas Kyoto yang meraih Nobel Kimia 2025, dan Sakaguchi, profesor kehormatan khusus dari Universitas Osaka penerima Nobel Fisiologi atau Kedokteran 2025, menekankan bahwa hasil riset dasar tidak dapat diperoleh secara instan hanya dengan peningkatan pendanaan jangka pendek.
Riset Dasar Butuh 10–20 Tahun
Kitagawa menyatakan bahwa penelitian dasar membutuhkan waktu 10 hingga 20 tahun untuk menghasilkan capaian signifikan.
Ia mengapresiasi langkah pemerintah Jepang yang meningkatkan anggaran hibah penelitian (Kakenhi) dalam rancangan anggaran tahun depan, namun menilai bahwa dukungan sebelumnya masih terlalu kecil.
“Riset dasar memerlukan waktu panjang. Pemerintah perlu merancang sistem pendanaan yang memahami karakter tersebut,” ujarnya.