Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Pensiunan Jenderal TNI Ungkap Data Intelijen: Stok Uranium Iran Setara 12 Bom Hiroshima–Nagasaki

Intelijen ungkap Iran punya uranium 440–460 kg yang teorinya bisa setara hingga 12 bom Hiroshima-Nagasaki, memicu kekhawatiran global

Tribun X Baca tanpa iklan

Ringkasan Berita:
  • Data intelijen menyebut Iran memiliki jumlah uranium signifikan secara teori bisa menghasilkan hingga sekitar 10–12 bom nuklir setara bom Hiroshima–Nagasaki
  • Kepemilikan material itu menjadi kekhawatiran global di tengah negosiasi nuklir dan ketegangan konflik Timur Tengah
  • Namun, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menegaskan belum ada bukti Iran menjalankan program pembuatan senjata nuklir

TRIBUNNEWS.COM - Purnawirawan Laksamana Muda TNI Iskandar Sitompul menegaskan, isu dugaan pengayaan uranium Iran harus dilihat dari perspektif pertahanan dan keamanan, bukan semata-mata politik.

Dalam program Rakyat Bersuara yang tayang di akun YouTube Official iNews, ia menyebut adanya indikasi kuat terkait kepemilikan uranium dalam jumlah signifikan.

“Data intelijen sudah mengatakan 440 kilo ada di sana,” ujarnya dikutip pada Rabu, 4 Maret 2026.

Ia membandingkan dengan bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat di Hiroshima, yang disebutnya menggunakan sekitar 60 kilogram uranium.

“Kalau 60 kilo saja bisa menghancurkan Hiroshima, 440 kilogram bisa membuat 10 sampai 12 bom seperti Hiroshima dan Nagasaki. Inilah yang dikhawatirkan sekali,” tegasnya.

Iskandar menekankan, perang seharusnya menjadi opsi terakhir setelah diplomasi menemui jalan buntu.

Rekomendasi Untuk Anda

“Perang adalah terakhir. Yang pertama adalah diplomasi,” katanya.

Menurut dia, konflik bersenjata umumnya terjadi karena ada perjanjian atau regulasi internasional yang dilanggar.

Dirinya menyinggung perjanjian pembatasan senjata nuklir yang sejak awal hanya mengakui lima negara sebagai pemilik resmi senjata nuklir—Amerika Serikat, Rusia, China, Prancis, dan Inggris—yang kemudian diikuti negara lain seperti India, Pakistan, Israel, dan Korea Utara di luar kerangka awal tersebut.

Sebagai prajurit yang mengabdi selama 40 tahun di TNI, Iskandar menyatakan dirinya berbicara dalam kerangka profesional militer.

Ia juga mengulas pentingnya sinergi antara intelijen dan media. 

Baca juga: IRGC: 100 Personel Militer AS di Dubai Tewas, CENTCOM: 17 Kapal Perang Iran Hancur

Menurutnya, media kerap menjadi alat kontrol sekaligus sumber pembanding informasi. 

“Media itu kadang-kadang lebih cepat daripada intelijen,” terangnya.

Ia menilai, jika diplomasi telah dilakukan berulang kali dan tetap gagal, maka eskalasi konflik menjadi sulit dihindari.

Namun demikian, ia mengingatkan agar seluruh pihak tidak mengingkari regulasi dan perjanjian internasional.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas