Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Gara-gara Konflik Iran, Dialog Damai Ukraina-Rusia Macet, Zelensky Ngaku Kecewa

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky mengaku kecewa, karena dialog damai dengan Rusia macet gara-gara konflik Iran.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan

Selama Timur Tengah masih membara, tampaknya Kyiv dan Moskow harus menunggu lebih lama untuk duduk bersama di meja hijau.

Dukungan Zelensky untuk Timur Tengah

Zelensky resmi memerintahkan jajarannya untuk menyusun rencana bantuan militer bagi negara-negara di kawasan Teluk.

Langkah ini diambil menyusul meningkatnya serangan drone dan rudal yang diluncurkan oleh Iran di wilayah Timur Tengah.

Zelensky menegaskan bahwa Ukraina memiliki keahlian khusus dalam menangani teknologi drone Iran, terutama tipe Shahed.

Sebagaimana diketahui, drone jenis ini merupakan senjata utama yang digunakan Rusia untuk menggempur infrastruktur Ukraina dalam dua tahun terakhir.

"Militer kami memiliki kemampuan yang mumpuni. Ahli-ahli dari Ukraina akan terjun langsung ke lokasi, dan saat ini tim kami tengah merundingkan teknis kerja samanya," ujar Zelensky, mengutip Kyiv Independent.

Baca juga: Zelenskyy: Rusia Siapkan Serangan Besar ke Ukraina pada Musim Semi

Zelensky mengaku telah menjalin komunikasi intensif dengan pemimpin Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Yordania, dan Bahrain.

Rekomendasi Untuk Anda

Ia juga menjadwalkan pembicaraan serupa dengan pihak Kuwait dalam waktu dekat.

Menurut Zelensky, negara-negara tersebut menghadapi ancaman yang identik dengan apa yang dirasakan warga Ukraina setiap hari.

"Mereka menghadapi ancaman serius dari drone serang Iran. Ini adalah 'Shahed' yang sama dengan yang menghancurkan kota-kota dan desa-desa kami," tegasnya.

Guna merealisasikan rencana ini, Zelensky telah memberikan instruksi khusus kepada Menteri Luar Negeri Andrii Sybiha, Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov, serta lembaga intelijen dan komando militer Ukraina.

Mereka diminta segera menyerahkan proposal bantuan yang efektif tanpa mengurangi kekuatan pertahanan dalam negeri Ukraina sendiri.

Ketegangan di Timur Tengah sendiri memuncak sejak akhir Februari lalu setelah adanya serangan terkoordinasi dari Amerika Serikat dan Israel terhadap infrastruktur militer Iran.

Sebagai balasan, Teheran yang merupakan sekutu dekat Rusia mulai meluncurkan serangan balasan ke berbagai titik di negara-negara Teluk.

Kehadiran ahli Ukraina di Timur Tengah diharapkan dapat membantu sistem pertahanan udara negara-negara sekutu dalam mencegat serangan drone dan rudal balistik yang kian intensif.

(Tribunnews.com/Whiesa)

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas