Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Embargo Laut AS ke Iran Makin Keras, Krisis Ekonomi Mulai Terlihat Nyata

Presiden AS Trump sebut ekonomi Iran mulai runtuh karena blokade AS memicu krisis finansial. AS menghalangi kapal yang bergerak dari dan menuju Iran.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Embargo Laut AS ke Iran Makin Keras, Krisis Ekonomi Mulai Terlihat Nyata
X @CENTCOM
KAPAL AS - Tangkapan layar pada Sabtu (9/5/2026), CENTCOM merilis foto-foto kapal USS Truxtun (DDG 103), USS Rafael Peralta (DDG 115), dan USS Mason (DDG 87) yang beroperasi di Timur Tengah. Ketiga kapal perusak tersebut saat ini berlayar di Laut Arab untuk mendukung blokade terhadap Iran. Pada 8 Mei 2026, Presiden AS Trump sebut ekonomi Iran mulai runtuh karena blokade AS memicu krisis finansial. AS menghalangi kapal yang bergerak dari dan menuju Iran. 

Ringkasan Berita:
  • Gedung Putih menyebut embargo terhadap Teheran “sangat berhasil”, yang disertai pengerahan kapal perang AS untuk mendukung blokade di Teluk.
  • Trump mengklaim ekonomi Iran runtuh, namun Iran masih mempertimbangkan proposal AS dan belum memberi keputusan.
  • Blokade disebut menekan ekonomi Iran, melemahkan mata uang, dan menghambat ekspor minyak. Namun laporan CIA menilai Iran masih bisa bertahan 3–4 bulan sebelum tekanan ekonomi lebih berat terasa.

TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Gedung Putih menegaskan bahwa embargo terhadap Teheran “sangat berhasil” dalam menekan perekonomian negara tersebut. 

Pemerintahan Presiden Donald Trump juga menyatakan masih “mempertimbangkan semua opsi” di tengah eskalasi militer yang semakin meningkat di kawasan Teluk.

"Saya seharusnya menerima pesan (dari Iran) malam ini, jadi kita lihat saja bagaimana kelanjutannya," kata Trump kepada wartawan di Washington, Jumat (8/5/2026).

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmail Baghaei mengklarifikasi pada hari Jumat bahwa Teheran masih mempelajari proposal Amerika dan akan mengumumkan tanggapannya setelah keputusan akhir tercapai.

AS Mengawasi Iran di Dekat Selat Hormuz

Di saat bersamaan, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi pengerahan kekuatan laut tambahan, termasuk kapal perusak USS Truxton, USS Rafael Peralta, dan USS Mason, yang saat ini beroperasi di wilayah Laut Arab dan Teluk sebagai bagian dari operasi pengamanan jalur pelayaran internasional.

CENTCOM menyebut operasi tersebut bertujuan mendukung blokade laut terhadap Iran dengan melakukan pengawasan dan pencegatan kapal-kapal yang diduga melanggar pembatasan ekonomi. 

Rekomendasi Untuk Anda

Dalam pernyataannya, militer AS mengklaim telah mengalihkan sedikitnya 57 kapal komersial dan menonaktifkan beberapa kapal lainnya untuk mencegah aktivitas keluar-masuk pelabuhan Iran.

“Operasi ini diperlukan untuk menjaga keamanan jalur perdagangan energi global,” demikian pernyataan yang dikutip dari akun resmi CENTCOM di platform X, Jumat (8/5/2026).

CENTCOM juga mengklaim beberapa kapal perusak mereka sempat menjadi target serangan rudal dan drone Iran saat melintas di kawasan tersebut, yang kemudian dibalas dengan serangan presisi ke sejumlah target di Iran.

Teheran sendiri belum memberikan konfirmasi resmi terkait klaim tersebut.

Baca juga: Aktivitas Misterius di Dekat Fasilitas Nuklir Natanz Iran: Pintu Terowongan Rahasia Tertutup Tanah

Bagaimana Blokade AS Bisa Menekan Ekonomi Iran?

Kebijakan blokade angkatan laut yang diperketat Amerika Serikat (AS) terhadap Iran sejak pertengahan April mulai menunjukkan dampak serius terhadap perekonomian Teheran.

Presiden AS Donald Trump bahkan sebelumnya mengklaim bahwa sistem ekspor minyak Iran akan “meledak dalam beberapa hari” akibat lumpuhnya jalur pengiriman minyak mentah.

Meski prediksi tersebut belum sepenuhnya terjadi, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan tekanan besar yang kini dihadapi Iran.

Gangguan terhadap pelayaran kapal masuk dan keluar pelabuhan membuat ekspor minyak melambat, sementara nilai mata uang Iran dilaporkan anjlok ke titik terendah sepanjang sejarah terhadap dolar AS.

Kondisi ini juga disebut memicu pemutusan hubungan kerja dalam skala luas di berbagai sektor.

Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas