Zelenskyy Klaim Siap Bantu Saudi Hancurkan Drone Iran, tapi Ukraina Minta Imbalan
Zelenskyy tawarkan bantuan ke Arab Saudi tangkis drone Iran. Tapi Kyiv minta imbalan sistem pertahanan dan dorongan ke Rusia untuk gencatan senjata.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Febri Prasetyo
Ringkasan Berita:
- Zelenskyy menawarkan bantuan kepada Arab Saudi untuk menghadapi serangan drone Shahed milik Iran, memanfaatkan pengalaman Ukraina dalam perang melawan Rusia.
- Ukraina mengklaim memiliki teknologi pencegat drone murah yang jauh lebih efisien dibanding rudal yang harganya bisa mencapai jutaan dolar per unit.
- Sebagai imbalan, Kyiv berharap negara-negara Teluk memberi dukungan sistem pertahanan udara serta membantu menekan Rusia agar menyetujui gencatan senjata sementara.
TRIBUNNEWS.COM – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menawarkan bantuan militer kepada Arab Saudi untuk menghadapi ancaman serangan drone Iran yang meningkat di kawasan Teluk.
Tawaran tersebut disampaikan langsung kepada Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman atau yang dikenal sebagai MBS di tengah eskalasi konflik di antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, pada Minggu (8/3/2026).
Dalam pernyataan yang diunggah melalui platform X pada Sabtu, Zelenskyy mengatakan bahwa Ukraina siap berbagi pengalaman dalam menghadapi serangan drone tipe Shahed yang selama ini digunakan Iran dan sekutunya dalam berbagai konflik di Timur Tengah.
Menurutnya, Ukraina memiliki pengalaman panjang dalam menanggulangi ancaman drone tersebut setelah bertahun-tahun menghadapi serangan serupa dalam perang melawan Rusia.
“Rakyat Ukraina telah berjuang melawan drone Shahed selama bertahun-tahun, dan dunia mengakui bahwa tidak ada negara lain yang memiliki pengalaman seperti ini. Kami siap membantu,” kata Zelenskyy mengutip dari Al Jazeera.
Selama lebih dari empat tahun perang melawan Rusia, Ukraina diam-diam mempercepat inovasi teknologi militernya.
Salah satu fokus utama adalah pengembangan sistem untuk menghadapi serangan drone Shahed-136 buatan Iran yang digunakan Rusia dalam operasi militernya.
Drone tersebut juga diproduksi dalam versi lokal Rusia yang dikenal dengan nama Geran. Serangan drone ini sering digunakan untuk menghantam infrastruktur energi dan fasilitas militer Ukraina.
Situasi tersebut memaksa industri pertahanan Ukraina mengembangkan berbagai teknologi baru, termasuk sistem pencegat drone berbiaya rendah.
Berkat inovasi tersebut, Ukraina kini dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki pengalaman paling luas dalam menghadapi ancaman drone kamikaze di medan perang modern.
Perang Drone: Perbandingan Biaya yang Tajam
Selain itu alasan lain Ukraina menawarkan teknologi pencegat drone adalah masalah efisiensi biaya dalam sistem pertahanan udara.
Baca juga: Iran Bilang Bukan Menarget Negara Teluk, Arab Saudi Bersiap Membalas
Drone Shahed rancangan Iran diperkirakan memiliki harga sekitar 30.000 dolar AS per unit.
Sebaliknya, sistem pertahanan udara yang selama ini digunakan untuk menembaknya sering kali jauh lebih mahal.
Sebagai contoh, satu rudal pencegat PAC-3 untuk sistem pertahanan udara Patriot missile system buatan Amerika Serikat dapat berharga hingga jutaan dolar per unit.
Perbedaan biaya yang sangat besar tersebut membuat banyak negara mulai mencari solusi alternatif yang lebih murah, tetapi tetap efektif untuk menghadapi serangan drone.
Baca tanpa iklan