Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Putin: Rusia Siap Kembali Memasok Minyak ke Eropa, Tapi Ada Syaratnya

Di tengah krisis energi akibat serangan AS-Israel ke Iran, Putin sebut Rusia siap kirim minyak-gas lagi ke Eropa jika mereka berhenti kritik Rusia.

zoom-in Putin: Rusia Siap Kembali Memasok Minyak ke Eropa, Tapi Ada Syaratnya
Foto: Mikhail Sinitsyn, TASS/Kremlin
PUTIN - Foto diunduh dari Kantor Presiden Rusia, Selasa (23/9/2025), memperlihatkan Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan kunjungan ke Pabrik Motovilikha pada 19 September 2025. - Krisis energi terjadi akibat serangan AS-Israel ke Iran dan Iran merespons dengan memblokade jalur pengiriman minyak di Selat Hormuz. Putin sebut Rusia siap untuk kembali mengirim minyak-gas ke Eropa jika mereka berhenti mengkritik Rusia atas perang terhadap Ukraina. 

Ringkasan Berita:
  • Putin mengatakan Rusia siap untuk kembali memasok minyak dan gas ke negara-negara Eropa jika tekanan politik terhadap negaranya dihentikan.
  • Uni Eropa melarang impor minyak Rusia sejak 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina.
  • Putin dan Trump membahas lonjakan minyak akibat serangan AS-Israel ke Iran.
  • Iran memblokade Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dunia di Timur Tengah.
  • Trump ingin cabut sanksi minyak terhadap beberapa negara, kemungkinan termasuk Rusia, untuk stabilkan pasar energi.

TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1476 pada Selasa (10/3/2026).

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan negaranya siap kembali memasok minyak dan gas kepada pembeli di Eropa, asalkan kerja sama tersebut bersifat jangka panjang dan tidak disertai tekanan politik terhadap Moskow.

Harga minyak dunia sendiri melonjak tajam sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.

Pada pekan ini, harga minyak bahkan sempat diperdagangkan di atas 100 dolar per barel, level tertinggi sejak Rusia memulai perang di Ukraina pada 2022.

Dalam pertemuan yang disiarkan televisi, Putin menyatakan Rusia akan terus menyalurkan minyak kepada mitra yang dianggap “andal”, termasuk negara-negara di Asia serta anggota Uni Eropa seperti Hongaria dan Slovakia.

"Jika perusahaan-perusahaan Eropa dan pembeli-pembeli Eropa tiba-tiba memutuskan untuk mengubah orientasi mereka dan memberi kami kerja sama jangka panjang dan berkelanjutan, tanpa tekanan politik... maka silakan saja. Kami tidak pernah menolak," kata Putin, Senin (9/3/2026).

Rekomendasi Untuk Anda

"Kami siap bekerja sama dengan Eropa, tetapi kami membutuhkan sinyal dari mereka bahwa mereka siap dan bersedia bekerja sama dengan kami dan akan memastikan keberlanjutan dan stabilitas ini," tambahnya.

Sebelumnya, Uni Eropa telah melarang impor minyak mentah Rusia yang dikirim melalui jalur laut sejak 2022.

Sementara itu, pengiriman minyak Rusia melalui pipa ke Hongaria dan Slovakia juga hampir terhenti sejak Januari setelah pipa Druzhba oil pipeline yang melewati Ukraina mengalami kerusakan.

Pernyataan Putin muncul hanya beberapa jam setelah Perdana Menteri Hongaria Viktor Orbán mendesak Uni Eropa untuk menangguhkan sanksi terhadap minyak dan gas Rusia guna meredam lonjakan harga energi yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah, lapor The Moscow Times.

Baca juga: Presiden AS Donald Trump Telepon Presiden Rusia Vladimir Putin Selama Satu Jam, Bahas Perang Iran

Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina

Perang antara Rusia dan Ukraina secara terbuka pecah pada 24 Februari 2022. Pada hari itu, Rusia melancarkan serangan militer besar ke berbagai kota di Ukraina. Serangan ini menjadi puncak dari ketegangan yang sebenarnya sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Akar konflik bermula setelah runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an. Setelah merdeka, Ukraina perlahan mempererat hubungan dengan negara-negara Barat, termasuk Uni Eropa dan Amerika Serikat. Langkah tersebut dipandang Rusia sebagai ancaman terhadap pengaruhnya di wilayah bekas Uni Soviet.

Ketegangan semakin memanas pada 2014 ketika terjadi gelombang demonstrasi besar di ibu kota Kyiv. Aksi tersebut dikenal sebagai Revolusi Maidan. Pergantian pemerintahan Ukraina yang lebih dekat dengan Barat memicu reaksi keras dari Rusia. Tidak lama setelah itu, Rusia mengambil alih wilayah Krimea, yang sebelumnya merupakan bagian dari Ukraina.

Di waktu yang sama, konflik bersenjata juga terjadi di kawasan Donbas di Ukraina timur. Pasukan pemerintah Ukraina berhadapan dengan kelompok separatis yang diduga mendapat dukungan dari Rusia. Berbagai upaya diplomasi sempat dilakukan untuk meredakan situasi, tetapi ketegangan tetap berlanjut.

Situasi mencapai puncaknya pada Februari 2022 ketika Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan dimulainya operasi militer skala besar terhadap Ukraina. Rusia menyatakan langkah tersebut bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia di wilayah Donbas serta mencegah perluasan NATO.

Halaman 1/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas