Cerita Zulfan Lindan Soal Kondisi Perang Iran: 10 Bom Lewat di Atas KBRI Tehran, Kaca Bergetar Hebat
Rentetan ledakan bom yang mengguncang langit Tehran, Iran, menjadi memori yang tak akan pernah dilupakan oleh Zulfan Lindan.
Penulis:
Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor:
Wahyu Aji
Ringkasan Berita:
- Politikus Zulfan Lindan mengaku merasakan langsung situasi menegangkan saat sekitar 10 bom melintas di atas Kedutaan Besar Republik Indonesia di Teheran, membuat kaca gedung bergetar dan para WNI bersiap berlindung di basement.
- Menurut Zulfan, meski serangan bom terjadi, banyak warga di Teheran tetap beraktivitas normal bahkan menggelar demonstrasi besar untuk mengecam serangan militer terhadap negara mereka.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rentetan ledakan bom yang mengguncang langit Tehran, Iran, menjadi memori yang tak akan pernah dilupakan oleh politikus Zulfan Lindan.
Ia adalah satu dari puluhan Warga Negara Indonesia (WNI) yang berhasil dievakuasi menembus zona perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel, hingga akhirnya tiba dengan selamat di Tanah Air.
Mendarat di Terminal Kedatangan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Selasa (10/3/2026) sore, Zulfan membagikan kesaksian mencekam detik-detik sebelum dirinya dan rombongan ditarik keluar oleh tim Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI.
"Situasinya mencekam ketika kami berada di KBRI Tehran. Itu 10 bom di atas KBRI lewat," ungkap Zulfan dengan raut wajah serius.
Hantaman bom-bom tersebut, kata Zulfan, sangat terasa hingga ke dalam gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tehran.
Guncangannya membuat kaca-kaca bangunan bergetar hebat dan membuat para WNI panik.
"Sekilo sampai dua kilo itu bom itu luar biasa, sehingga kaca-kaca di kedutaan itu bergetar. Kami menuju basement (ruang bawah tanah) sebenarnya, tapi kata Dubes sementara nggak usah dulu," ceritanya mengenang malam penyerangan tersebut.
Dua hari sebelum malam mencekam itu, Zulfan dan WNI lainnya ternyata telah menerima surat undangan resmi dari pihak KBRI.
Surat itu berisi instruksi darurat untuk pendataan evakuasi.
"Barangsiapa yang siap untuk dievakuasi mengisi form. Dan banyak yang tidak mengisi. Jadi pada yang pertama sekali, 32 orang mengisi, langsung diberangkatkan," terangnya.
Usai malam yang diwarnai bom dari udara tersebut, tepat saat waktu Subuh tiba, ungkapnya, rombongan WNI ini akhirnya bergegas melarikan diri dari wilayah konflik.
Zulfan dan rombongan pun harus menempuh perjalanan darat selama 9 jam lamanya untuk mencapai perbatasan Iran dengan Azerbaijan.
"Yang lama itu 5 jam kami tunggu di imigrasi Tehran. Tapi di Baku (Azerbaijan) hanya satu jam," jelasnya.
Meski melewati rute evakuasi yang mencekam, Zulfan mengaku sangat takjub dengan pemandangan di jalanan Kota Tehran.
Baca tanpa iklan