Penjelasan Ilmiah Mengapa Serangan AS Menyebabkan Hujan Asam di Iran
Hujan hitam turun di Iran setelah serangan udara AS-Israel terhadap depot minyak. Fenomena ini mengandung polutan berbahaya
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Whiesa Daniswara
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM - Hujan hitam dilaporkan turun di beberapa wilayah Iran beberapa jam setelah serangan udara AS-Israel terhadap depot minyak pada akhir pekan lalu, Minggu (8/3/2026).
Beberapa media menyebut fenomena tersebut sebagai “hujan asam”.
Warga Iran melaporkan mengalami sakit kepala dan kesulitan bernapas.
Hujan yang terkontaminasi minyak juga dilaporkan menempel pada bangunan dan mobil.
Palang Merah Iran memperingatkan bahwa curah hujan setelah serangan tersebut bisa sangat berbahaya dan bersifat asam.
Mengutip The Conversation, menurut Gabriel da Silva, seorang ahli kimia atmosfer sekaligus insinyur kimia yang meneliti polusi udara, laporan-laporan ini sangat mengkhawatirkan dan menunjukkan lebih dari sekadar hujan asam.
Hujan tersebut mengandung asam dan kemungkinan juga berbagai polutan lain yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Bahkan, dampaknya mungkin lebih buruk daripada yang tersirat dari istilah “hujan asam”.
Secara lebih luas, awan tebal asap beracun di atas daerah padat penduduk di Iran juga menjadi masalah serius bagi siapa pun yang menghirup udara tersebut saat ini.
Apa Itu 'Hujan Asam'?
Salah satu cara utama polutan udara dihilangkan dari atmosfer adalah melalui hujan.
Ketika terdapat tingkat polutan yang signifikan di udara, polutan tersebut akan dikumpulkan oleh tetesan air hujan dan kemudian “terbuang” dari atmosfer.
Itulah sebabnya muncul laporan tentang hujan hitam yang jatuh dari langit setelah depot minyak dibom, yang menunjukkan betapa terkontaminasinya udara setempat.
Baca juga: Presiden Iran Tetapkan 3 Syarat untuk Akhiri Perang, Trump Deklarasikan Kemenangan
Hujan hitam tersebut mengindikasikan bahwa polutan beracun seperti hidrokarbon, partikel ultrahalus yang dikenal sebagai PM2.5, dan senyawa karsinogenik yang disebut hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) telah masuk ke dalam air hujan.
Selain itu, kemungkinan terdapat campuran bahan kimia lain yang belum diketahui, termasuk logam berat dan senyawa anorganik dari bahan bangunan serta berbagai material lain yang terlempar akibat ledakan awal dan kebakaran yang terjadi setelahnya.
Baca tanpa iklan