Iran Ancam Akan Lakukan Pengayaan Uranium hingga 90 Persen jika Diserang AS-Israel Lagi
Iran dapat memperkaya uranium hingga kemurnian 90 persen, tingkat yang dianggap sebagai bahan baku senjata nuklir, jika Iran diserang lagi.
Penulis:
Nuryanti
Editor:
Garudea Prabawati
Ringkasan Berita:
- Iran dapat memperkaya uranium hingga kemurnian 90 persen, tingkat yang dianggap sebagai bahan baku senjata nuklir, jika Iran diserang lagi.
- Iran memiliki persediaan uranium yang diperkaya hingga 60 persen dalam jumlah signifikan, padahal sekitar 90 persen dibutuhkan untuk sebuah senjata nuklir.
- Persediaan uranium yang sangat diperkaya milik Iran tetap menjadi poin penting dalam negosiasi dengan Amerika Serikat.
TRIBUNNEWS.COM - Iran mengancam akan melakukan pengayaan uranium hingga 90 persen jika terjadi serangan baru oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel di wilayahnya.
Peringatan ini disampaikan oleh juru bicara Komite Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional parlemen Iran, Ebrahim Rezaei.
Pernyataan Rezaei muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang memicu pembalasan dari Teheran terhadap Israel, serta sekutu AS di Teluk, bersamaan dengan penutupan Selat Hormuz.
Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April 2026 melalui mediasi Pakistan, tetapi pembicaraan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan yang langgeng.
Gencatan senjata tersebut kemudian diperpanjang oleh Presiden AS Donald Trump tanpa batas waktu yang ditentukan.
Pada Minggu (10/5/2026), Iran mengirimkan tanggapannya kepada Pakistan atas usulan AS untuk mengakhiri perang, tetapi Trump menolaknya sebagai "sama sekali tidak dapat diterima."
“Kami akan meninjaunya di parlemen,” kata Rezaei dalam sebuah unggahan di X, Selasa (12/5/2026).
Ebrahim Rezaei mengatakan, Iran dapat memperkaya uranium hingga kemurnian 90 persen, tingkat yang dianggap sebagai bahan baku senjata nuklir, jika Iran diserang lagi.
“Salah satu pilihan Iran jika terjadi serangan lain adalah pengayaan 90 persen," jelas Rezaei.
Iran memiliki persediaan uranium yang diperkaya hingga 60 persen dalam jumlah signifikan, padahal sekitar 90 persen dibutuhkan untuk sebuah senjata nuklir.
Persediaan uranium yang sangat diperkaya milik Iran tetap menjadi poin penting dalam negosiasi dengan Amerika Serikat, yang bersikeras bahwa material tersebut harus dipindahkan keluar dari negara itu.
Sejauh ini Iran menolak untuk memindahkan persediaan uranium yang diperkaya ke luar negeri dan bersikeras pada haknya untuk menggunakan energi nuklir secara damai, meskipun mereka mengatakan tingkat pengayaan tersebut masih "dapat dinegosiasikan."
Baca juga: UEA Habis Kesabaran, Serang Balik Iran: Bom Kilang Minyak Teheran di Pulau Lavan
Pernyataan Trump
Presiden AS Donald Trump mengatakan, gencatan senjata yang sedang berlangsung antara AS dan Iran berada dalam kondisi "kritis" setelah menolak proposal Iran, yang menggarisbawahi betapa rapuhnya upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik tersebut.
Pada Juni 2025 lalu, Trump mengatakan fasilitas nuklir Iran "dihancurkan" oleh serangan AS dan Israel selama perang 12 hari, yang sangat membatasi kemampuan Iran untuk memperkaya uranium.
Diberitakan Al Arabiya, nasib sekitar 400 kg uranium yang diperkaya hingga 60 persen, langkah teknis singkat dari sekitar 90 persen bahan baku senjata nuklir, masih belum jelas.
Baca tanpa iklan