Terhambat karena Perang AS-Iran, Zelenskyy Desak AS Lanjutkan Mediasi Rusia-Ukraina
Zelenskyy mendesak AS untuk melanjutkan perundingan antara Rusia dan Ukraina yang terhambat karena AS menyerang Iran sejak 28 Februari lalu.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Nuryanti
Ringkasan Berita:
- Zelenskyy mengatakan rencana pembicaraan perang antara Ukraine, Rusia, dan AS di Santa Barbara ditunda karena situasi di Timur Tengah.
- Zelenskyy menegaskan Ukraina siap bertemu di mana saja, termasuk di AS, Turki, Swiss, atau UEA.
- Sebelumnya, pembicaraan trilateral juga berlangsung di Geneva pada 17–18 Februari.
- Menurut Rustem Umerov, diskusi fokus pada langkah praktis mengakhiri perang dan negosiasi damai masih membahas isu wilayah Donetsk dan Luhansk.
TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.480 pada Sabtu (14/3/2026).
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan persiapan pembicaraan perang dengan Rusia dan Amerika Serikat (AS) sempat direncanakan berlangsung di Santa Barbara, California, AS.
Namun, pertemuan itu ditunda atas permintaan pihak AS karena situasi keamanan akibat konflik di Timur Tengah.
"Ada semacam pertemuan di Santa Barbara untuk negosiasi ini karena perang di Timur Tengah. Pihak AS mengatakan mereka siap bertemu, tetapi hanya di AS. Karena perang dan situasi keamanan melarang mereka meninggalkan wilayah Amerika Serikat saat ini," kata Zelenskyy, Jumat (13/3/2026).
Zelensky menegaskan Ukraina siap menghadiri pertemuan di mana saja, termasuk di AS, Turki, Swiss, atau Uni Emirat Arab.
"Itu tergantung pada pihak Amerika Serikat. Mereka adalah penyelenggara pertemuan ini. Kami mengharapkan sesuatu dari mereka," tambahnya.
Sementara itu, pada 17–18 Februari telah berlangsung pembicaraan trilateral antara Ukraina, Amerika Serikat, dan Rusia di Geneva, Switzerland.
Sekretaris Dewan Keamanan Ukraina Rustem Umerov, yang menjadi kepala negosiator Ukraina, mengatakan diskusi berfokus pada langkah praktis menuju penyelesaian perang dan mekanisme implementasinya.
Utusan khusus Presiden AS Steve Witkoff juga menyebut adanya “kemajuan signifikan”, sementara kepala delegasi Rusia Vladimir Medinsky menilai perundingan tersebut “kompleks, tetapi profesional.”
Upaya perdamaian sebenarnya sudah berlangsung sejak akhir 2025 melalui sejumlah pertemuan di berbagai kota seperti Berlin dan Abu Dhabi.
Baca juga: Donald Trump: Rusia Bantu Iran dan Amerika Bantu Ukraina, Itu Fair
Dalam pembicaraan tersebut, Ukraina dan AS membahas rencana perdamaian 20 poin untuk mengakhiri perang Rusia–Ukraina yang dimulai pada 2022.
Hingga kini, beberapa isu utama—termasuk wilayah Donetsk dan Luhansk—masih menjadi topik penting dalam negosiasi, lapor Pravda.
Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina
Perang antara Rusia dan Ukraine dimulai pada 24 Februari 2022 ketika Rusia melancarkan serangan militer ke beberapa kota di Ukraina. Serangan tersebut terjadi setelah hubungan kedua negara lama mengalami ketegangan.
Akar konflik ini bermula setelah bubarnya Uni Soviet pada awal 1990-an. Setelah menjadi negara merdeka, Ukraina mulai menjalin hubungan lebih dekat dengan negara-negara Barat seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat. Hal ini membuat Rusia merasa pengaruhnya di kawasan bekas wilayah Soviet semakin berkurang.
Ketegangan semakin memanas pada 2014 saat terjadi demonstrasi besar di ibu kota Ukraina, Kyiv. Aksi yang dikenal sebagai Revolusi Maidan itu menyebabkan perubahan pemerintahan yang lebih mendukung kerja sama dengan Barat. Sebagai tanggapan, Rusia kemudian mengambil alih wilayah Krimea dari Ukraina.