Serangan AS terhadap Pulau Kharg Iran Memicu Kepanikan di China, SPBU Diserbu Warga
Serangan Amerika Serikat terhadap Pulau Kharg di Iran memicu kepanikan di China karena pulau itu menjadi pusat ekspor minyak Iran.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Sri Juliati
Ringkasan Berita:
- Serangan Amerika Serikat terhadap Pulau Kharg di Iran memicu kepanikan di China karena pulau itu menjadi pusat ekspor minyak Iran.
- Harga bahan bakar di China melonjak tajam dan masyarakat bergegas mengisi kendaraan mereka.
- Iran menegaskan Selat Hormuz harus tetap tertutup sebagai alat tawar terhadap AS, meski ada wacana perdagangan minyak dengan yuan.
TRIBUNNEWS.COM - Serangan AS terhadap Pulau Kharg di Iran, pusat utama bagi 90 persen ekspor minyak negara itu, telah memicu kepanikan di China.
NDTV melaporkan, harga bahan bakar di negara tersebut meroket ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Pulau itu, yang disebut sebagai "permata mahkota" Iran oleh Presiden AS Donald Trump, dibom pada awal pekan ini.
Infrastruktur energinya selamat, tetapi Trump mengancam akan menghancurkannya jika Iran mengganggu jalur pelayaran yang bebas dan aman melalui Selat Hormuz.
Trump kemudian mengeluarkan ancaman baru terhadap Iran dengan mengatakan bahwa ia mungkin akan menyerang pulau itu lagi "hanya untuk bersenang-senang".
Bagaimana Dampaknya bagi China?
Pulau Kharg, sebuah pulau karang kecil yang berjarak sekitar 33 kilometer dari pantai Iran, merupakan terminal utama tempat hampir seluruh ekspor minyak Iran melewati.
Sejak perang dimulai, Iran telah mengekspor 13,7 juta barel minyak, dan beberapa kapal tanker terlihat sedang memuat di Kharg baru-baru ini, lapor kantor berita AP.
Sebagian besar minyak yang dikirim dari Iran melalui Pulau Kharg menuju China, importir minyak mentah terbesar di dunia.
Menurut data, China merupakan pembeli terbesar minyak Iran, dengan menyumbang sekitar 91 persen dari ekspor minyak negara tersebut pada 2024.
Tahun lalu, China dilaporkan membeli rata-rata 1,38 juta barel minyak Iran per hari.
Kilang-kilang independen China yang dikenal sebagai teapots, yang sebagian besar terkonsentrasi di Provinsi Shandong, merupakan pembeli utama minyak mentah Iran.
Baca juga: Iran Tembakkan Rudal Menari untuk Pertama Kalinya Sejak 28 Februari, Ini yang Perlu Diketahui
Reuters melaporkan, mereka tertarik karena adanya diskon dibandingkan harga minyak mentah yang tidak dikenai sanksi.
Mengingat besarnya impor minyak tersebut, China menjadi pihak pertama yang akan terkena dampak gangguan pasokan akibat perang yang sedang berlangsung.
Jika pasokan minyak dari Iran terganggu, ditambah gangguan di Selat Hormuz, harga minyak mentah global dapat meningkat lebih lanjut akibat kekurangan pasokan.
Panic Buying di China
Perang yang semakin memanas, terutama serangan terhadap Pulau Kharg di Iran, telah membuat China panik, mendorong para pengemudi bergegas mengisi tangki kendaraan mereka dan menyebabkan antrean panjang di SPBU, NDTV melaporkan.
Baca tanpa iklan