Rentetan Upaya Mosad Lemahkan Rezim Iran Gagal Total, Netanyahu Frustasi
Para pejabat intelijen AS memandang kegagalan Mosad disebabkan oleh ketidaksiapan kondisi domestik Iran untuk melakukan perubahan kekuasaan.
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Dalam satu dekade Mosad berupaya melemahkan rezim Iran dengan berbagai upaya, mulai dari sanksi hingga serangan udara yang terjadi saat ini
- Alih-alih terpecah, para pemimpin Iran semakin memperkuat posisi mereka. Rakyat Iran cenderung tetap solid di bawah kendali pemerintah pusat
- Netanyahu mengeluh bahwa rencana Mosad tidak berjalan sesuai harapan, hingga akhirnya meredam ekspektasi perubahan rezim di Iran
TRIBUNNEWS.COM - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, frustrasi terhadap kinerja badan intelijen Mossad dalam satu dekade terakhir.
Rentetan rencana rahasia Mossad untuk memicu pemberontakan rakyat Iran guna menggulingkan rezim Teheran, sejauh ini gagal total.
Berdasarkan laporan The New York Times, yang dikutip Times of Israel, Netanyahu sempat menggantungkan harapan besar pada rencana Direktur Mossad, David Barnea.
Dalam proposalnya, Barnea memprediksi bahwa serangan terhadap pemimpin Iran akan mampu "menggalang oposisi" dan memicu kerusuhan massal yang berujung pada runtuhnya kekuasaan Republik Islam tersebut.
Baca juga: Iran Tegas Bantah Trump soal Gencatan Senjata: Berita Bohong untuk Manipulasi Pasar Minyak
Namun, kenyataan di lapangan berbanding terbalik. Alih-alih terpecah, para pemimpin Iran semakin memperkuat posisi mereka. Rakyat Iran cenderung tetap solid di bawah kendali pemerintah pusat.
Upaya melemahkan Iran dari dalam sebenarnya telah menjadi proyek jangka panjang Mossad, namun selalu menemui jalan buntu:
Di era Yossi Cohen (2016–2021), pendahulu Barnea, lebih fokus pada upaya pelemahan teknis melalui sanksi ekonomi yang ketat dan operasi pembunuhan terhadap ilmuwan-ilmuwan nuklir Iran.
Meski menimbulkan kerugian bagi Iran, strategi ini gagal menghentikan program nuklir maupun menggoyahkan fondasi rezim.
Kemudian di era David Barnea (2021-sekarang), Mosad mengambil langkah lebih ekstrem dengan memfokuskan energi pada perubahan kekuasaan di Iran.
Ia menjanjikan bahwa serangan udara akan menjadi pemicu demonstrasi besar-besaran, yang ternyata tidak terwujud.
Para pejabat intelijen Amerika Serikat (AS) memandang kegagalan ini disebabkan oleh ketidaksiapan kondisi domestik Iran untuk melakukan revolusi.
Trauma atas tindakan tegas aparat keamanan Iran pada aksi protes sebelumnya, ditambah risiko dari kampanye pengeboman Israel-AS, membuat masyarakat Iran memilih untuk tetap di rumah.
"Netanyahu mengungkapkan frustrasinya karena janji Mossad untuk menghasut pemberontakan di Iran tidak menjadi kenyataan," tulis laporan tersebut.
Bahkan dalam sebuah rapat keamanan, Netanyahu mengeluh bahwa rencana tersebut tidak berjalan sesuai harapan.
Baca tanpa iklan