Iran Izinkan Kapal Non-Musuh Lewat Selat Hormuz, Sinyal Deeskalasi Perang Mulai Terlihat
Iran izinkan kapal non-musuh melintas di Selat Hormuz, di tengah negosiasi perang dan krisis energi global.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Facundo Chrysnha Pradipha
Ringkasan Berita:
- Iran menyatakan kapal non-musuh kini bisa melintas aman di Selat Hormuz dengan syarat tertentu di tengah perang.
- Kebijakan ini muncul saat lalu lintas kapal anjlok drastis dan memicu krisis energi global.
- Sinyal deeskalasi juga terlihat setelah AS menyebut negosiasi untuk mengakhiri konflik mulai berlangsung.
TRIBUNNEWS.COM - Iran menyatakan kapal-kapal “non-musuh” kini dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman di tengah menurunnya lalu lintas maritim yang memicu krisis energi global.
Al Jazeera melaporkan, pernyataan itu disampaikan misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (25/3/2026).
Iran menegaskan kapal diperbolehkan melewati jalur tersebut selama tidak terlibat atau mendukung tindakan agresi terhadap Teheran.
Selain itu, kapal wajib mematuhi seluruh aturan keselamatan dan keamanan yang telah ditetapkan otoritas Iran.
Dalam pernyataannya, Iran juga menyebut kapal harus berkoordinasi dengan otoritas terkait sebelum melintasi selat tersebut.
Iran Kirim Sinyal ke Dunia Maritim
Sebelumnya, Iran telah menyampaikan kebijakan serupa kepada Organisasi Maritim Internasional (IMO).
Al Jazeera melaporkan, langkah ini dipandang sebagai sinyal bahwa Iran tidak memberlakukan blokade total di Selat Hormuz.
Baca juga: Iran Tegaskan Pertahankan Kendali Selat Hormuz, AS Kirim Rencana 15 Poin Akhiri Perang Timur Tengah
Namun, Teheran tidak merinci aturan teknis yang harus dipenuhi kapal untuk dapat melintas dengan aman.
Iran hanya menegaskan bahwa jalur aman tersedia bagi kapal yang tidak dianggap sebagai “musuh”.
Lalu Lintas Anjlok Drastis
Sejak pecahnya perang antara AS-Israel dan Iran pada 28 Februari, lalu lintas kapal di Selat Hormuz turun tajam.
Sebelum konflik, sekitar 120 kapal melintasi jalur tersebut setiap hari.
Kini, hanya sekitar lima kapal yang terdeteksi melintas dalam satu hari, menurut perusahaan intelijen maritim Windward.
The New York Times melaporkan, ratusan kapal tanker bahkan menganggur di kedua sisi selat karena kekhawatiran serangan.
Kondisi ini terjadi karena operator kapal enggan mengambil risiko di jalur yang menjadi salah satu titik terpenting distribusi energi dunia.
Baca tanpa iklan