Mengapa Pakistan Disebut-sebut Menjadi Mediator dalam Konflik Amerika Serikat dan Iran?
Pakistan disebut berpotensi menjadi mediator konflik AS-Iran karena memiliki hubungan baik dengan kedua pihak serta komunikasi yang stabil.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Wahyu Gilang Putranto
Ringkasan Berita:
- Pakistan disebut berpotensi menjadi mediator konflik AS-Iran karena memiliki hubungan baik dengan kedua pihak serta komunikasi yang stabil.
- Dukungan politik, kedekatan militer dengan AS, serta pengalaman mediasi konflik memperkuat posisi Pakistan sebagai penengah.
- Meski peluang terbuka, belum ada konfirmasi resmi, sementara Iran dan AS masih berselisih soal klaim adanya negosiasi.
TRIBUNNEWS.COM - Pakistan berpotensi memainkan peran penting di panggung internasional jika negara tersebut berhasil menengahi gencatan senjata antara AS dan Iran, di tengah perang yang telah berlangsung selama empat minggu.
Pada Senin (23/3/2026), Presiden AS Donald Trump mengklaim telah mengadakan pembicaraan dengan seorang pejabat Iran, yang diduga adalah Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf.
Pembicaraan tersebut disebut menghasilkan jeda lima hari dalam serangan terhadap infrastruktur listrik di Iran, sehingga meningkatkan prospek kesepakatan perdamaian jangka panjang, lapor The New Arab.
Namun, Iran dan Qalibaf membantah bahwa dialog tersebut terjadi.
Mereka menyebutnya sebagai "berita palsu" dan menilai itu sebagai cara bagi Trump untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak guna keluar dari situasi sulit yang dihadapi AS dan Israel.
Di tengah laporan yang saling bertentangan dan ketidakpastian mengenai kemungkinan dialog antara Iran dan AS, Pakistan dinilai dapat turun tangan sebagai mediator antara kedua pihak.
Pakistan, sebagai negara bersenjata nuklir, secara historis memiliki hubungan yang baik namun kompleks dengan AS dan Iran.
Jika mengambil peran tersebut, Pakistan kemungkinan akan berupaya menemukan jalan tengah yang adil bagi kedua negara.
Baca juga: Trump Tawarkan Rencana 15 Poin untuk Akhiri Perang Iran, Ada Gencatan Senjata 1 Bulan
Hubungan Pakistan-Iran dan Pakistan-AS
Dilansir The New Arab, Iran merupakan negara pertama yang mengakui Pakistan saat negara itu merdeka pada 14 Agustus 1947, setelah dipisahkan dari India menyusul ratusan tahun pemerintahan kolonial Inggris.
Kedua negara memiliki ikatan linguistik, budaya, dan sejarah yang kuat, serta telah mempertahankan hubungan yang relatif ramah selama beberapa dekade, meskipun sesekali menghadapi ketegangan.
Kerja sama keduanya sebagian besar berfokus pada isu keamanan kawasan, khususnya terkait Afghanistan, perdagangan narkoba, dan pemberontakan di wilayah Balochistan.
Selain itu, Iran dipandang positif oleh banyak warga Pakistan, terutama dari kalangan Muslim Syiah, yang memimpin protes terhadap serangan gabungan AS-Israel ke Iran.
Di sisi lain, hubungan AS dengan Pakistan lebih kompleks, dipengaruhi oleh isu terorisme dan dugaan loyalitas ganda dalam dinas intelijen.
Meski demikian, hubungan militer kedua negara tetap kuat.
Pakistan juga berupaya mendekatkan diri dengan Trump, termasuk dengan mencalonkannya untuk Hadiah Nobel Perdamaian atas perannya dalam menengahi gencatan senjata antara Pakistan dan India pada 2025.
Baca tanpa iklan