Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Setelah 88 Hari, Warga Iran Akhirnya Bisa Akses Internet Lagi, Medsos Langsung Dibanjiri Curhatan

Setelah 88 hari, warga Iran akhirnya kembali online. Namun, media sosial justru dipenuhi tangisan, trauma, dan kemarahan.

Tayang:
Diperbarui:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Setelah 88 Hari, Warga Iran Akhirnya Bisa Akses Internet Lagi, Medsos Langsung Dibanjiri Curhatan
Tribunnews.com/Irwan Rismawan
IRAN - Potret bendera Iran. Setelah 88 hari, warga Iran akhirnya kembali online. Namun, media sosial justru dipenuhi tangisan, trauma, dan kemarahan. 

Ringkasan Berita:
  • Setelah 88 hari hidup dalam isolasi digital, warga Iran akhirnya kembali bisa mengakses internet meski masih terbatas. 
  • Banyak warga Iran mengaku internet yang kembali aktif bukan menghadirkan kebebasan, melainkan membuka kembali trauma, kehilangan, dan kemarahan akibat konflik, tekanan politik, serta krisis ekonomi.
  • Meski akses internet mulai pulih, warga tetap khawatir pemerintah Iran akan memperketat pengawasan digital melalui sistem “filternet”.

TRIBUNNEWS.COM - Setelah hampir 88 hari atau sekitar tiga bulan hidup dalam isolasi digital, warga Iran akhirnya kembali bisa mengakses internet meski masih dalam kondisi terbatas.

Pemulihan koneksi internet tersebut langsung memicu ledakan aktivitas di media sosial pada Kamis (28/5/2026). 

Ribuan pesan yang tertunda, foto-foto lama, video perang, hingga curahan emosi warga yang selama berbulan-bulan terputus dari dunia luar mulai membanjiri platform digital.

Ellie, seorang seniman asal Teheran, mengaku dirinya dan sang suami langsung menangis ketika akhirnya bisa kembali mendengarkan musik dan mengakses dunia luar setelah berbulan-bulan hidup dalam keterisolasian digital.

Ia menggambarkan momen tersebut sebagai “secercah kebebasan” di tengah situasi Iran yang masih penuh ketidakpastian.

Meski begitu, tidak semua warga memiliki perasaan yang sama. Maryam, seorang fotografer di Teheran, justru mengaku muak melihat sebagian pihak merayakan pemulihan internet tersebut.

Rekomendasi Untuk Anda

Menurutnya, akses internet adalah hak dasar warga negara dan bukan sesuatu yang pantas dipuji ketika akhirnya dikembalikan oleh pemerintah.

Maryam mengatakan kondisi internet di Iran saat ini juga masih jauh dari normal. Internet seluler disebut masih sulit digunakan dan sejumlah aplikasi komunikasi belum dapat berjalan dengan baik.

“WhatsApp hampir tidak bisa dipakai. Hanya VPN yang sedikit lebih mudah tersambung,” ujarnya sebagaimana dikutip dari The Guardian.

Keluhan serupa juga datang dari Amin, seorang profesor di Teheran. Ia mengatakan media sosialnya kini dipenuhi video para ibu yang menangis di makam anak-anak mereka, serta berbagai unggahan tentang korban konflik dan penderitaan warga sipil selama masa krisis.

“Hati saya terasa lebih berat dari sebelumnya,” katanya.

Menurut Amin, rakyat Iran menjadi pihak yang paling menderita dalam konflik berkepanjangan yang melibatkan tekanan politik, perang, dan pembatasan kebebasan informasi.

“Kami kehilangan pekerjaan, kehilangan anak muda, dan kehilangan kepercayaan terhadap dunia internasional,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari The Guardian.

Baca juga: Tujuh Senjata yang Disebut Bisa Menenggelamkan Kapal Induk USS Abraham Lincoln: Iran Bisa Punya?

Sindiran Pedas Penuhi Medsos

Selain unggahan tentang kesedihan dan kehilangan, humor khas masyarakat Iran juga mulai bermunculan kembali di berbagai platform digital.

Namun, humor tersebut tidak hadir sebagai hiburan biasa. Sebagian besar unggahan justru dipenuhi sindiran tajam, kemarahan, dan kritik terhadap situasi yang telah mereka alami selama hampir tiga bulan hidup dalam isolasi digital.

Sesuai Minatmu
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas