AS Gempur Lebih dari 10 Ribu Target Militer Iran hingga Pekan Keempat, 1.500 Orang Tewas
AS klaim serang 10 ribu target Iran, negosiasi tetap berjalan di tengah perang dan penolakan publik yang terus meningkat
Penulis:
Gita Irawan
Editor:
Glery Lazuardi
Ringkasan Berita:
- Pasukan Amerika Serikat diklaim telah menghantam lebih dari 10 ribu target militer Iran.
- Di sisi lain, negosiasi masih berlangsung meski saling klaim berbeda.
- Dampak perang terasa di AS, sementara penolakan publik dan kritik politik terus meningkat.
TRIBUNNEWS.COM - Komandan US Central Command (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper menyatakan pasukan Amerika Serikat telah menyerang lebih dari 10 ribu target militer di Iran hingga pekan keempat operasi militer sejak akhir Februari 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui video resmi yang diunggah di akun media sosial CENTCOM pada Kamis (26/3/2026).
Cooper mengklaim serangan besar-besaran ini bertujuan untuk melumpuhkan kemampuan Iran dalam memproyeksikan kekuatan militernya.
“Pasukan AS telah menyerang lebih dari 10.000 target militer. Bahkan, kami menghantam target Iran yang ke-10 ribu baru beberapa jam yang lalu,” ujar Cooper.
Ia juga mengklaim bahwa serangan tersebut berhasil melumpuhkan sistem pertahanan udara Iran secara signifikan. Selain itu, sekitar 92 persen kekuatan kapal besar Angkatan Laut Iran disebut telah dihancurkan.
Tak hanya itu, Cooper menyebut kemampuan Iran dalam meluncurkan drone dan rudal telah menurun lebih dari 90 persen akibat operasi gabungan militer Amerika Serikat dan sekutunya.
“Hari ini, kami telah merusak atau menghancurkan lebih dari dua pertiga fasilitas produksi rudal, drone, dan angkatan laut serta galangan kapal Iran, dan kami belum selesai,” tegasnya.
Dalam operasi tersebut, AS juga mengerahkan ribuan penerbangan tempur untuk mempertahankan keunggulan udara di wilayah Iran.
Pesawat pengisian bahan bakar memperluas jangkauan misi, sementara jet tempur dan pengebom melakukan serangan presisi ke berbagai target strategis.
Cooper turut menyoroti peran pesawat pengebom B-52 Stratofortress yang mampu membawa hingga 70 ribu pon atau sekitar 31,7 ton amunisi dalam setiap misi serangan.
“Pilot dan awak pesawat B-52 kami menunjukkan keberanian dan ketangguhan luar biasa dalam operasi ini,” tambahnya.
Sementara itu, laporan dari The Associated Press menyebutkan media Iran yang mengutip kementerian kesehatan setempat melaporkan lebih dari 1.500 orang tewas sejak dimulainya serangan militer AS dan sekutunya.
Situasi ini menandai eskalasi besar dalam konflik di kawasan Timur Tengah, dengan dampak kemanusiaan dan geopolitik yang terus berkembang.
Baca juga: Trump Sebut Iran Ogah Akui Ikut Negosiasi karena Takut: Mereka Mengira Akan Dibunuh Rakyat Sendiri
Negosiasi AS-Iran Berlanjut di Tengah Perang
Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran masih terus berlangsung di tengah konflik bersenjata yang memasuki hari ke-27.
Namun, kedua pihak menunjukkan narasi yang bertolak belakang terkait posisi masing-masing dalam negosiasi.
Baca tanpa iklan