Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

AS Gempur Lebih dari 10 Ribu Target Militer Iran hingga Pekan Keempat, 1.500 Orang Tewas

AS klaim serang 10 ribu target Iran, negosiasi tetap berjalan di tengah perang dan penolakan publik yang terus meningkat

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Gita Irawan
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in AS Gempur Lebih dari 10 Ribu Target Militer Iran hingga Pekan Keempat, 1.500 Orang Tewas
HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni
GEMPUR IRAN - Jet-jet tempur Israel berangkat untuk menggempur Iran. Israel kini memasuki operasi milite rfase dua yang menargetkan sejumlah fasilitas penting, seperti pabrik senjata dan nuklir Iran. 

Presiden Donald Trump mengklaim Teheran sangat ingin mencapai kesepakatan.

Sebaliknya, Iran menilai keinginan Washington untuk berunding justru menjadi tanda kelemahan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan bahwa komunikasi tetap berlangsung melalui mediator.

Namun, ia menilai perubahan sikap AS—yang sebelumnya menuntut “penyerahan tanpa syarat”—sebagai bentuk pengakuan kegagalan.

Di sisi lain, Gedung Putih menyatakan pembicaraan terus berjalan dan bahkan tengah mengupayakan pertemuan lanjutan di Pakistan untuk mencari jalan keluar konflik.

Baca juga: Iran Tolak Gencatan Senjata AS, Siapkan Syarat Sendiri di Tengah Eskalasi Konflik

Dampak Perang Mulai Terasa di AS

Di dalam negeri AS, dampak perang mulai dirasakan masyarakat. United States Postal Service (USPS) mengumumkan biaya tambahan bahan bakar sebesar 8 persen untuk pengiriman paket, yang akan berlaku mulai 26 April 2026.

Kebijakan ini menjadi sinyal meningkatnya beban ekonomi akibat perang, baik bagi konsumen maupun pelaku usaha.

Rekomendasi Untuk Anda

Selain itu, kritik juga datang dari parlemen. Anggota House Armed Services Committee dari dua partai menyatakan ketidakpuasan terhadap penjelasan pemerintah terkait tujuan dan durasi perang.

Ketidakjelasan ini muncul di tengah rencana pemerintah mengajukan tambahan anggaran untuk mendukung operasi militer dan pengadaan ulang amunisi.

Opini Publik Berbalik

Hasil survei terbaru menunjukkan mayoritas warga AS tidak mendukung perang ini.

Sekitar 59 persen responden menilai keputusan menyerang Iran adalah langkah yang salah, sementara 61 persen tidak puas dengan penanganan konflik oleh Trump.

Gedung Putih sendiri menyebut operasi militer yang dinamai “Operation Epic Fury” masih ditargetkan berlangsung selama empat hingga enam pekan, meski hasil akhirnya belum bisa dipastikan.

Ketegangan di Lapangan Meningkat

Di lapangan, situasi masih memanas. Iran dilaporkan memperkuat pertahanan di Pulau Kharg sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan operasi militer AS.

Selain itu, sumber militer Iran memperingatkan potensi pembukaan front baru di Selat Bab el-Mandeb jika tekanan militer terus meningkat.

Jalur ini merupakan salah satu titik vital perdagangan global, khususnya untuk minyak dan gas.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas