Menlu AS Marco Rubio Klaim Perang Iran Akan Berakhir dalam Hitungan Minggu
Rubio menegaskan bahwa Washington optimistis dapat mencapai seluruh target strategisnya di Iran dalam kurun waktu hitungan minggu.
Ringkasan Berita:
- Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran berjalan sesuai jadwal dan diprediksi akan selesai dalam hitungan minggu tanpa perlu invasi darat berskala besar
- Meskipun mengupayakan jalur udara, AS tetap mengirimkan ribuan personel Marinir dan pasukan elite ke kawasan tersebut
- Iran sedang mempertimbangkan 15 poin proposal perdamaian dari AS, namun mereka mengecam serangan terbaru terhadap fasilitas nuklir yang dianggap mengkhianati tenggat waktu diplomasi
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Amerika Serikat (AS) memproyeksikan bahwa operasi militer terhadap Iran akan rampung dalam hitungan minggu, bukan bulan.
Hal ini disampaikan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio usai pertemuan tingkat menteri luar negeri G7 di Prancis pada hari Jumat (27/3/2026)
Rubio menegaskan bahwa Washington optimistis dapat mencapai seluruh target strategisnya tanpa perlu melancarkan invasi darat berskala besar.
Melalui keterangannya kepada pers usai pertemuan Paris tersebut, Rubio menyatakan bahwa operasi militer di Iran telah berjalan sesuai jadwal, bahkan lebih cepat dari rencana semula.
Dikutip dari Reuters, Rubio menyampaikan bahwa Washington berharap dapat menyelesaikan operasi di Iran dalam kurun waktu hitungan minggu, bukan bulan.
Meskipun Rubio meyakini tujuan militer dapat tercapai melalui serangan udara dan presisi jarak jauh, ia mengakui adanya pengerahan personel militer langsung ke kawasan Timur Tengah.
Langkah ini diambil guna memberikan fleksibilitas maksimal bagi Presiden Donald Trump dalam menghadapi berbagai kemungkinan skenario di lapangan.
Saat ini, Washington telah mengirimkan dua kontingen yang terdiri atas ribuan personel Marinir.
Gelombang pertama dijadwalkan tiba pada akhir Maret dengan menggunakan kapal serbu amfibi raksasa, sementara Pentagon juga diperkirakan akan menerjunkan ribuan prajurit lintas udara elite.
Pengerahan ini memicu kekhawatiran global bahwa konflik yang dimulai pada 28 Februari lalu melalui serangan udara Amerika Serikat dan Israel akan berubah menjadi perang darat yang berkepanjangan.
Respons Iran yang menyerang target Amerika Serikat, Israel, serta fasilitas sipil di negara-negara Teluk telah mengganggu jalur perdagangan komoditas dan energi dunia secara drastis.
Gangguan di Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi sekitar dua puluh persen pasokan minyak dunia, juga telah memicu lonjakan harga yang signifikan dan ancaman resesi global.
Jika harga minyak mentah melonjak sebesar 10 Dolar AS atau setara dengan kurang lebih 158.500 Rupiah per barel, dampaknya akan langsung terasa pada biaya produksi industri dan inflasi di seluruh dunia.
Sementara itu, dari segi korban jiwa, Maria Martinez dari Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah melaporkan bahwa lebih dari 1.900 jiwa telah melayang dan sedikitnya 20.000 orang mengalami luka-luka di Iran.