11 Ribu Amunisi Habis dalam 16 Hari, Perang Iran Ubah Paradigma Kemenangan Militer Modern
Perang Iran yang berlangsung sejak awal Maret 2026 kini memasuki babak baru dengan sorotan tajam terhadap kapasitas industri pertahanan Barat.
Penulis:
Malvyandie Haryadi
Ringkasan Berita:
- Perang Iran yang berlangsung sejak awal Maret 2026 kini memasuki babak baru dengan sorotan tajam terhadap kapasitas industri pertahanan Barat.
- Dalam 16 hari pertama operasi yang dinamai Epic Fury, tercatat lebih dari 11 ribu amunisi telah digunakan oleh koalisi Amerika Serikat dan Israel.
- Angka ini menelan biaya sekitar 26 miliar dolar AS, menimbulkan pertanyaan besar tentang daya tahan logistik militer.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perang Iran yang berlangsung sejak awal Maret 2026 kini memasuki babak baru dengan sorotan tajam terhadap kapasitas industri pertahanan Barat.
Dalam 16 hari pertama operasi yang dinamai Epic Fury, tercatat lebih dari 11 ribu amunisi telah digunakan oleh koalisi Amerika Serikat dan Israel.
Namun di balik dominasi taktis tersebut, muncul satu fakta krusial: kemenangan di medan tempur kini tidak lagi ditentukan semata oleh kecanggihan senjata, melainkan oleh kemampuan industri untuk terus mengisi ulang persediaan.
Konflik ini menjadi “alarm kebakaran” bagi basis industri pertahanan Barat, melampaui peringatan yang sebelumnya muncul dari Perang Rusia-Ukraina.
Jika perang di Ukraina membuka mata, maka perang Iran menegaskan krisis daya tahan yang nyata. Konsumsi amunisi dalam skala besar memperlihatkan ketidakseimbangan biaya yang berpotensi merugikan secara strategis.
Amerika Serikat dan Israel memang mampu menyerang ribuan target, namun di saat yang sama mereka harus mengeluarkan rudal bernilai jutaan dolar untuk menghancurkan drone dan proyektil yang harganya jauh lebih murah.
Ketimpangan ini bahkan mengejutkan penasihat militer Ukraina yang menyaksikan bagaimana sistem pertahanan udara digunakan secara “boros”.
Dalam 16 hari pertama, koalisi tercatat menghabiskan lebih dari 11 ribu amunisi dengan total biaya sekitar 26 miliar dolar AS.
Angka ini mencerminkan intensitas konflik yang luar biasa tinggi, sekaligus menjadi indikator betapa cepatnya stok senjata strategis terkuras.
Setelah gelombang serangan awal yang masif, konflik kemudian berubah menjadi perang atrisi.
Serangan Iran memang menurun drastis hingga 80–90 persen dari puncaknya, namun tetap konsisten dengan puluhan rudal dan drone diluncurkan setiap hari. Kondisi ini terus menggerus persediaan amunisi canggih milik koalisi Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara Arab sekutu mereka.
Risiko terbesar bukan sekadar jumlah amunisi yang digunakan, melainkan ketimpangan dalam laju pengurasan stok.
Beberapa jenis senjata masih tersedia dalam jumlah besar, namun kategori kritis seperti interceptor jarak jauh dan senjata presisi mulai mendekati titik habis.
Fenomena ini sejalan dengan konsep “impotence of power” dari Bertrand Badie yang menyebut dominasi militer tidak selalu menghasilkan kemenangan politik.
Sementara itu, teori “Command of the Commons” dari Barry Posen kini diuji dalam konteks baru, di mana kemampuan proyeksi kekuatan tidak cukup tanpa dukungan logistik berkelanjutan.
Baca tanpa iklan