Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Perang Iran vs Amerika Jadi Upaya Dedolarisasi: Dominasi Dolar AS Terancam di Jalur Energi

Iran dorong transaksi minyak pakai yuan di Selat Hormuz, sinyal kuat pergeseran dominasi dolar AS di perdagangan energi global.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: willy Widianto
Editor: Glery Lazuardi

Ringkasan Berita:
  • Iran mempertimbangkan kebijakan transaksi minyak dengan yuan di Selat Hormuz. 
  • Langkah ini memicu tren de-dolarisasi global, seiring gangguan jalur energi dan meningkatnya peran China dalam perdagangan minyak dunia.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memunculkan dinamika baru dalam perdagangan energi global.

Wacana penggunaan mata uang China, Yuan untuk transaksi minyak kini menguat dan berpotensi menggeser dominasi dolar Amerika Serikat, setidaknya di salah satu jalur energi paling strategis dunia, Selat Hormuz.

Baca juga: Presiden Diminta Turun Tangan Atasi Tertahannya Kapal Pertamina di Selat Hormuz

Laporan sejumlah media internasional menyebutkan Iran tengah mempertimbangkan kebijakan yang mengizinkan kapal tanker minyak melintas di Selat Hormuz hanya jika transaksi minyak dilakukan menggunakan yuan.

Kebijakan ini disebut sebagai bagian dari strategi “de-dolarisasi” sekaligus upaya menghindari sanksi Barat.

Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Namun sejak pecahnya konflik kawasan pada awal Maret 2026, arus pelayaran di wilayah ini mengalami gangguan drastis.

Data terbaru menunjukkan, dalam kondisi normal lebih dari 100 hingga 130 kapal per hari melintas di selat tersebut. Namun kini, jumlah itu merosot tajam. Bahkan dalam situasi krisis, hanya sekitar 2 kapal per hari yang berhasil melintas. 

Rekomendasi Untuk Anda

Dalam periode 1–15 Maret 2026, tercatat hanya sekitar 90 kapal termasuk 16 tanker minyak yang berhasil menyeberangi Selat Hormuz.

Angka ini menunjukkan penurunan signifikan dibanding kondisi normal, sekaligus menggambarkan ketatnya kontrol dan risiko keamanan di jalur tersebut.

Menariknya, sejumlah laporan juga mengindikasikan adanya praktik pembayaran dalam yuan untuk mendapatkan izin melintas.

Beberapa kapal bahkan disebut membayar hingga jutaan yuan kepada otoritas terkait demi keamanan perjalanan mereka. 

Baca juga: PM Jepang Akan Minta Kepada Presiden Indonesia Bergabung ke Koalisi Global, Amankan Selat Hormuz

Langkah Iran ini dinilai bukan sekadar kebijakan taktis, melainkan sinyal kuat terhadap perubahan struktur sistem keuangan global.

Selama puluhan tahun, perdagangan minyak dunia didominasi dolar AS melalui sistem “petrodollar”. Namun, dengan meningkatnya peran China sebagai importir utama minyak termasuk membeli lebih dari 80 persen ekspor minyak Iran penggunaan yuan mulai mendapatkan ruang.

China juga sudah mulai aktif menggunakan Cross Border Interbank Payment System(CIPS). CIPS adalah sistem pembayaran lintas batas yang dikelola China untuk memfasilitasi kliring dan penyelesaian transaksi mata uang yuan (RMB) secara langsung, bertujuan mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Lebih dari 1.700 bank di dunia telah menggunakan sistem ini.

Data The Economist mencatat, CIPS memproses transaksi lintas batas senilai 175 triliun yuan atau setara Rp402.325 triliun pada 2024, melonjak 43 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas