Rusia: Moskow Tak Berbagi Data Intelijen dengan Teheran di Tengah Konflik Panas AS-Israel Vs Iran
Rusia menegaskan tidak memberikan intelijen kepada Iran, sembari menyebut Teheran sebagai korban yang berhak membela diri.
Penulis:
garudea prabawati
Editor:
Whiesa Daniswara
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM - Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Andrey Rudenko, menegaskan bahwa Moskow tidak membagikan data intelijen kepada Iran.
Terlebih di tengah konflik panas antara Amerika Serikat (AS) - Israel vs Iran yang saat ini masih terus berlangsung.
Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri acara di Kolombo, Sri Lanka.
“Moskow tidak berbagi data intelijen dengan Teheran, tidak seperti AS dan Inggris, yang mentransfer informasi tersebut ke Ukraina untuk menyerang infrastruktur sipil Rusia,” kata Rudenko, mengutip Anadolu Agency, Rabu (1/4/2026).
Ia menambahkan bahwa Rusia tidak mengikuti langkah AS dan Inggris yang disebut memberikan dukungan intelijen kepada Ukraina.
Rudenko juga menegaskan posisi Rusia terhadap Iran dalam konflik yang tengah berlangsung.
Baca juga: AS Sebut Akhir Perang di Iran Sudah Dekat, Isyaratkan Potensi Pembicaraan Langsung Tanpa Kesepakatan
“Iran adalah korban dari serangan yang tidak beralasan dan tidak sah,” ujarnya.
“Teheran menggunakan haknya untuk membela diri,” lanjutnya lagi.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional setelah serangan udara oleh AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari 2026.
Berdasarkan laporan kelompok aktivis HAM berbasis di AS, lebih dari 1.400 orang dilaporkan tewas.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke Israel serta sejumlah negara lain seperti Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.
Serangan tersebut memicu korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan penerbangan.
Iran Ajukan Empat Syarat Perdamaian ke AS dan Israel
Sementara itu Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, menyampaikan bahwa Teheran memiliki empat tuntutan utama yang harus dipenuhi untuk mewujudkan perdamaian jangka panjang di kawasan Timur Tengah.
Hal tersebut disampaikan dalam wawancara dengan kantor berita Rusia, TASS.
“Pertama, penghentian akhir dan penyelesaian tindakan teroris dan teroris. Kedua, pemberian jaminan yang obyektif dan kredibel untuk mencegah kekambuhan agresi dan perang. Ketiga, kompensasi penuh untuk kerusakan material dan moral. Keempat, menghormati yurisdiksi hukum Iran di Selat Hormuz untuk melindungi keamanan maritim internasional,” ujar Kazem Jalali.
Baca tanpa iklan