Tanpa AS, 35 Negara akan Mendesak Iran Buka Selat Hormuz
Setidaknya 35 negara akan mengadakan pertemuan virtual untuk membahas cara mendesak Iran untuk membuka Selat Hormuz. AS tak ikut pertemuan itu.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Yurika NendriNovianingsih
“Prosesnya akan memakan waktu sangat lama, dan akan membuat semua orang yang melewati selat tersebut berisiko terkena ancaman dari para penjaga revolusi, serta rudal balistik,” katanya.
Blokade Iran terhadap Selat Hormuz telah mengguncang pasar energi dan meningkatkan harga minyak.
Minyak Brent melonjak lebih dari empat persen menjadi lebih dari 105 USD, sementara West Texas Intermediate naik tiga persen hingga mencapai sekitar 103 USD.
Seperlima dari total produksi minyak dunia biasanya melewati Selat Hormuz, lapor The Times of Israel.
Iran Mengendalikan Selat Hormuz
Bloomberg News mengungkapkan pelayaran melalui Selat Hormuz kini bersyarat, dengan kapal-kapal diharuskan berasal dari negara-negara yang bersahabat dengan Iran.
Sementara beberapa kapal diwajibkan membayar biaya dalam yuan China atau mata uang kripto sebagai imbalan atas pelayaran aman di bawah perlindungan kapal-kapal Iran.
Laporan menunjukkan operator kapal tanker minyak yang terdampar di Teluk Arab menerima tawaran menggiurkan untuk berlayar dengan aman melalui Selat Hormuz menuju laut lepas, dengan syarat mereka setuju untuk mengubah registrasi kapal tanker dan mengibarkan bendera Pakistan.
Menurut seorang eksekutif perusahaan yang meminta namanya dirahasiakan, perusahaan tersebut tidak dapat menerima tawaran dari pemerintah Pakistan.
Iran setuju untuk mengizinkan 20 kapal Pakistan melewati selat tersebut, tetapi Pakistan tidak memiliki banyak kapal di daerah itu.
Menurut sumber yang mengetahui diskusi tersebut, Pakistan mulai menghubungi beberapa perusahaan pelayaran terbesar di dunia untuk melihat apakah mereka memiliki kapal yang mampu melintasi Selat Hormuz untuk sementara waktu dengan mengibarkan bendera Pakistan.
Sebuah sumber melaporkan Pakistan sedang mencari kapal terbesar yang tersedia di kawasan itu, termasuk kapal tanker super dengan kapasitas masing-masing dua juta barel.
Pengaturan perizinan tersebut dipandang sebagai cara untuk menunjukkan keberhasilan upaya diplomatik dalam mengakhiri konflik.
Laporan menunjukkan setidaknya dua perusahaan minyak besar telah menyetujui tawaran tersebut.
Pengaturan ini menunjukkan bagaimana Garda Revolusi Iran (IRGC) menjalankan kendali signifikan atas navigasi melalui Selat Hormuz.
Disebut mengenakan biaya pada kapal yang melintasi Selat Hormuz, dengan perlakuan berbeda tergantung hubungan negara asal kapal dengan Iran. Kapal dari negara “bersahabat” mendapat syarat lebih ringan, sementara yang dianggap musuh bisa dikenai ancaman.
Baca tanpa iklan